Kadin Jatim: Pembatasan Kadar Nikotin Ancaman Besar bagi Penerimaan CHT
Kadin Jatim: Pembatasan Kadar Nikotin Ancaman Besar bagi Penerimaan CHT

Kadin Jatim: Pembatasan Kadar Nikotin Ancaman Besar bagi Penerimaan CHT

LintasWarganet.com – 01 Juni 2026 | Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mengkritisi rencana pemerintah untuk menurunkan batas maksimum kadar nikotin dalam rokok menjadi 1 miligram dan kadar tar menjadi 10 miligram. Menurut Kadin, kebijakan ini dapat menurunkan daya tarik konsumen terhadap produk rokok tradisional, terutama varian CHT yang selama ini menjadi kontributor utama pendapatan industri rokok di wilayah Jawa Timur.

Regulasi tersebut diusulkan oleh Kementerian Kesehatan sebagai upaya menurunkan tingkat kecanduan dan risiko kesehatan masyarakat. Namun, Kadin menilai bahwa penetapan batas yang terlalu ketat akan memaksa produsen untuk mengubah komposisi produk secara drastis, yang pada gilirannya dapat mengurangi penjualan dan menurunkan penerimaan pajak negara.

  • Target nikotin: maksimal 1 mg per batang.
  • Target tar: maksimal 10 mg per batang.
  • Penurunan perkiraan penjualan rokok tradisional di Jawa Timur diproyeksikan sebesar 15‑20% dalam dua tahun pertama.
  • Potensi penurunan penerimaan cukai negara diperkirakan mencapai Rp 500 miliar per tahun.

Kadin Jatim menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan pendekatan bertahap, misalnya menurunkan batas nikotin menjadi 2 mg dan tar menjadi 15 mg pada fase pertama, serta memberikan waktu transisi bagi produsen. Selain itu, Kadin mengusulkan peningkatan program edukasi publik tentang bahaya rokok sebagai langkah komplementer, bukan sekadar pembatasan teknis.

Jika regulasi diterapkan tanpa penyesuaian, Kadin memperkirakan akan terjadi pergeseran konsumen ke produk ilegal atau rokok impor yang tidak terkontrol, yang justru dapat meningkatkan peredaran barang ilegal dan menurunkan kontrol kualitas.

Dalam rapat internal, Kadin Jatim menekankan pentingnya dialog antara pemerintah, industri, dan lembaga kesehatan untuk menemukan solusi yang melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi regional.