LintasWarganet.com – 27 April 2026 | John Phelan, yang menjabat sebagai Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat (Secretary of the Navy) pada masa pemerintahan Presiden Donald Trump, menjadi sorotan nasional setelah pemecatannya pada pertengahan 2023. Pemecatan tersebut diumumkan setelah Phelan gagal menyampaikan rencana realistis untuk pembangunan kelas kapal perang baru yang dijanjikan akan menjadi yang terbesar dan paling mematikan dalam sejarah militer AS.
Penunjukan Phelan sebagai sekretaris angkatan laut dimulai pada awal 2021, ketika ia dipilih karena latar belakangnya yang kuat di bidang pertahanan dan manajemen proyek. Namun, tugas terberatnya muncul ketika administrasi Trump menuntut percepatan program pembangunan kapal perang kelas baru, yang diproyeksikan membutuhkan investasi triliunan dolar dan teknologi yang belum sepenuhnya matang.
Berikut adalah rangkaian peristiwa utama yang mengarah pada pemecatan John Phelan:
- Desain ambisius: Pada akhir 2021, Departemen Pertahanan mengumumkan rencana untuk mengembangkan kapal perang dengan ukuran lebih besar, daya tembak lebih kuat, dan kemampuan pertahanan yang canggih. Program ini dijuluki secara internal sebagai “Program Colossus”.
- Jadwal yang tidak realistis: Presiden Trump menuntut penyelesaian prototipe dalam waktu kurang dari dua tahun, jauh lebih singkat dibandingkan standar industri yang biasanya memerlukan 5‑7 tahun.
- Kesulitan teknis dan anggaran: Tim teknis melaporkan bahwa material komposit baru, sistem propulsi listrik‑hidrogen, dan senjata hipersonik belum siap untuk produksi massal. Selain itu, perkiraan biaya melambung hingga $150 miliar, melampaui batas anggaran tahunan Departemen Angkatan Laut.
- Laporan internal: Pada bulan Maret 2023, pejabat senior pertahanan menyampaikan kepada Gedung Putih bahwa tidak ada rencana yang dapat memenuhi target waktu dan anggaran yang ditetapkan.
- Keputusan pemecatan: Pada 22 April 2023, Presiden Trump mengumumkan pemecatan John Phelan, menyatakan bahwa kegagalan menepati komitmen “menjadi tidak dapat diterima” bagi keamanan nasional.
Reaksi dari dalam militer dan politik menunjukkan beragam pandangan. Beberapa pejabat menilai bahwa ekspektasi Trump terlalu agresif dan tidak mempertimbangkan kompleksitas teknis. Sementara itu, anggota Kongres dari partai oposisi mengkritik kurangnya transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan menuntut audit menyeluruh atas belanja pertahanan.
Akibat pemecatan tersebut, program “Colossus” sementara ditangguhkan untuk evaluasi kembali. Departemen Pertahanan berencana mengkaji kembali kebutuhan strategis, mengidentifikasi teknologi yang dapat diandalkan, serta menetapkan jadwal yang lebih realistis sebelum melanjutkan pembangunan.
Kasus John Phelan menjadi contoh penting tentang tantangan antara ambisi politik tinggi dan realitas teknis dalam industri pertahanan modern. Ke depan, kebijakan pertahanan AS diperkirakan akan lebih menekankan pada perencanaan jangka panjang dan kolaborasi lintas sektoral guna menghindari kegagalan serupa.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet