Israel Perluas Operasi Militer ke Lebanon Timur, Serangan Tebas 13 Anggota Keamanan
Israel Perluas Operasi Militer ke Lebanon Timur, Serangan Tebas 13 Anggota Keamanan

Israel Perluas Operasi Militer ke Lebanon Timur, Serangan Tebas 13 Anggota Keamanan

LintasWarganet.com – 29 April 2026 | Militer Israel pada Senin (27/4/2026) melancarkan serangan baru ke wilayah timur Lebanon, tepatnya di Lembah Bekaa, menandai eskalasi terbaru dalam konflik berlarut dengan kelompok bersenjata Hizbullah. Serangan ini menewaskan 13 anggota keamanan Lebanon, menambah daftar korban jiwa yang terus bertambah sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 16 April.

Latar Belakang dan Target Operasi

Menurut juru bicara militer Israel, operasi di Bekaa bertujuan menghancurkan infrastruktur logistik dan persenjataan Hizbullah yang diyakini berada di sekitar kota Nabi Chit, dekat perbatasan Lebanon‑Suriah. Meskipun tidak ada laporan resmi tentang korban jiwa di wilayah tersebut, sumber keamanan Lebanon mengonfirmasi terjadinya tembakan intensif di sekitar daerah itu.

Serangan Terpisah di Selatan Lebanon

Sementara operasi di timur berlangsung, unit militer Israel juga melakukan serangan artileri di selatan Lebanon. Laporan resmi dari kantor berita Lebanon mencatat tiga orang terluka dalam aksi tersebut. Pada saat yang sama, Hizbullah mengklaim berhasil menembakkan drone yang menyerang sebuah tank Israel di wilayah selatan; Israel mengonfirmasi adanya ledakan drone dekat pos mereka, namun tidak ada korban jiwa.

Isu Disiplin Militer dan Penjarahan

Ketegangan di medan perang diperparah oleh laporan penjarahan properti sipil oleh pasukan Israel. Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan peringatan keras kepada personelnya, menegaskan bahwa tindakan penjarahan dan penyebaran konten kontroversial di media sosial melanggar garis merah disiplin militer. Zamir menjanjikan penyelidikan menyeluruh terhadap insiden tersebut dan menegaskan bahwa pelanggar akan dikenai sanksi disipliner.

Korban Sipil dan Dampak Kemanusiaan

Sejak awal Maret, konflik telah menewaskan lebih dari 2.500 orang di Lebanon, termasuk perempuan dan anak-anak. Serangan udara besar-besaran pada 9 April menewaskan setidaknya 254 jiwa, sebagian besar di distrik Tyre dan Majdal Zoun. Laporan Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat 4 orang meninggal dan 51 lainnya luka serius dalam satu serangan terbaru, dengan korban meliputi perempuan dan anak-anak.

Reaksi Internasional dan Prospek Gencatan Senjata

Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan April tampaknya belum berhasil menghentikan pertempuran. Kedua pihak terus menuduh satu sama lain melanggar kesepakatan, sementara diplomasi di Washington berupaya memperpanjang jeda tembak. Namun, operasi militer yang kini meluas ke Bekaa menandakan bahwa pihak Israel masih memandang ancaman Hizbullah sebagai prioritas utama.

  • 13 anggota keamanan Lebanon tewas dalam operasi terbaru Israel.
  • Israel menargetkan infrastruktur Hizbullah di Lembah Bekaa, wilayah pertama yang diserang sejak gencatan senjata.
  • Hizbullah melaporkan serangan drone terhadap tank Israel; Israel mengakui ledakan tanpa korban.
  • Laporan penjarahan oleh pasukan Israel memicu peringatan disiplin dari Letnan Jenderal Eyal Zamir.
  • Total korban sejak Maret melampaui 2.500 jiwa, termasuk warga sipil.

Dengan eskalasi yang terus berlanjut, situasi di perbatasan Israel‑Lebanon tetap sangat tidak stabil. Meskipun upaya diplomatik terus digalakkan, operasi militer yang meluas ke wilayah timur Lebanon menunjukkan bahwa konflik belum menemukan titik de‑esklasi yang jelas. Ke depan, tekanan internasional dan dinamika internal Hizbullah akan menjadi faktor penentu apakah gencatan senjata dapat dipertahankan atau akan berujung pada konflik berskala lebih luas.