LintasWarganet.com – 30 Maret 2026 | Teheran mengeluarkan pernyataan tegas pada Minggu (30/3/2026) setelah mengidentifikasi rencana tersembunyi Amerika Serikat untuk melancarkan operasi darat di wilayah Iran. Dalam pidatonya, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan bahwa Iran tidak akan membiarkan pihak asing menguji tekad bangsa dalam mempertahankan kedaulatan tanah air.
Rencana Operasi Darat AS
Berbagai laporan media internasional, termasuk Washington Post dan The Guardian, mengungkap bahwa Pentagon sedang menyiapkan skenario militer maksimal yang mencakup penempatan ribuan prajurit khusus dan infanteri konvensional. Sekitar 3.500 marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 telah tiba di pangkalan-pangkalan Timur Tengah pada 27-29 Maret 2026, menambah total kehadiran personel militer Amerika Serikat di kawasan tersebut menjadi lebih dari 50.000 orang.
Operasi yang diberi nama kode “Epic Fury” diperkirakan akan menargetkan beberapa titik strategis, antara lain Pulau Kharg – pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia – serta wilayah pesisir di sekitar Selat Hormuz. Tujuan utama disebutkan sebagai upaya membuka kembali jalur pengiriman minyak yang kini diblokir oleh Tehran, sekaligus kemungkinan penyitaan fasilitas uranium yang diperkirakan telah diperkaya.
- Pulau Kharg: kontrol atas fasilitas penyimpanan dan ekspor minyak.
- Selat Hormuz: mengamankan jalur pelayaran internasional.
- Fasilitas militer dan laboratorium nuklir yang diyakini berada di wilayah pesisir utara.
Pentagon juga mengajukan permohonan tambahan anggaran sebesar US$200 miliar untuk mendukung operasi yang diproyeksikan berlangsung selama beberapa minggu hingga bulan. Meskipun Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menolak konfirmasi resmi tentang invasi darat, ia menyatakan bahwa persiapan logistik dan penempatan pasukan merupakan bagian dari “opsi maksimal” yang disiapkan Presiden Donald Trump.
Respons Keras Iran
Menanggapi ancaman tersebut, Qalibaf menegaskan bahwa “pasukan kami berada dalam kesiapan penuh untuk menghukum setiap tentara Amerika yang berani menginjakkan kaki di wilayah kedaulatan Republik Islam.” Ia menambahkan bahwa militer Iran siap menembakkan “peluru mematikan” serta memanfaatkan sistem pertahanan udara, drone, dan bahan peledak improvisasi untuk menetralkan setiap upaya pendaratan pasukan AS.
Parlemen Tehran juga melaporkan bahwa Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) telah mengeluarkan pernyataan ancaman terhadap universitas-universitas milik Amerika Serikat di Timur Tengah, sebagai balasan atas kemungkinan serangan ke fasilitas pendidikan Iran.
Selain pernyataan verbal, Iran telah memperkuat posisi pertahanannya dengan menambah penempatan pasukan khusus di pulau-pulau strategis dan meningkatkan kesiapan sistem pertahanan anti‑pesawat serta jaringan drone. Sumber militer dalam negeri menyebutkan bahwa latihan pertahanan darat sedang dijalankan secara intensif, dengan fokus pada taktik perlawanan urban dan penanggulangan pasukan pendaratan amfibi.
Dampak Regional dan Internasional
Kenaikan ketegangan ini menambah beban geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sudah dipenuhi konflik. Negara-negara sekutu Amerika Serikat, termasuk Arab Saudi, Turki, dan Uni Emirat Arab, kini menghadapi dilema antara mendukung sekutu barat atau menahan dampak ekonomi akibat gangguan jalur pengiriman minyak. Di sisi lain, Pakistan berperan sebagai mediator, menyelenggarakan pertemuan dua hari bersama menteri luar negeri dari Saudi, Turki, dan Mesir untuk mencari solusi diplomatik.
Jika operasi darat benar-benar diluncurkan, risiko eskalasi menjadi konflik terbuka akan meningkat tajam. Analisis para pakar militer menyebutkan bahwa keterlibatan pasukan darat AS di wilayah yang dipenuhi sistem pertahanan Iran dapat memicu serangan balasan berskala besar, termasuk penggunaan rudal balistik dan serangan siber terhadap infrastruktur kritis Amerika.
Selama empat pekan terakhir, serangan rudal dan drone telah menjadi pola utama dalam konfrontasi antara kedua negara, menandai pergeseran dari perang konvensional ke perang asimetris yang lebih sulit diprediksi.
Dengan tekanan politik domestik di Washington menjelang pemilihan umum, keputusan akhir Presiden Trump mengenai operasi darat masih berada dalam tahap pertimbangan. Sementara itu, Iran menegaskan kesiapan totalnya, menandai bahwa setiap langkah agresi akan dihadapi dengan balasan yang “menyengsarakan” bagi pihak penyerang.
Ketegangan yang semakin memuncak ini menuntut perhatian serius komunitas internasional untuk mencegah spiralisasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama pasar energi yang sangat bergantung pada aliran minyak melalui Selat Hormuz.
Dalam situasi yang masih sangat dinamis, kedua belah pihak tampak berada pada posisi saling menguji ketangguhan militer dan diplomatik, dengan risiko konfrontasi terbuka yang terus mengintai.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet