Ini J-20 Mighty Dragon, Pesawat Siluman Pesaing F-35 yang Jadi Momok Radar AS
Ini J-20 Mighty Dragon, Pesawat Siluman Pesaing F-35 yang Jadi Momok Radar AS

Ini J-20 Mighty Dragon, Pesawat Siluman Pesaing F-35 yang Jadi Momok Radar AS

LintasWarganet.com – 26 Juni 2026 | J-20 Mighty Dragon menjadi simbol kebangkitan teknologi tempur udara Republik Rakyat China dalam satu dekade terakhir. Pesawat tempur generasi kelima ini dirancang untuk menantang dominasi Amerika Serikat di ruang udara, khususnya dalam kategori pesawat siluman berkecepatan tinggi.

Desain siluman J-20 menonjolkan bentuk delta dengan sayap canard dan badan yang sangat halus. Material komposit serta lapisan radar‑absorbent coating (RAC) dipasang secara menyeluruh untuk menurunkan radar cross‑section (RCS) hingga level yang sulit dideteksi oleh radar konvensional. Bentuk hidung yang menyatu dengan badan serta penempatan mesin di dalam lubang intake menambah efektivitas stealth.

Berikut adalah beberapa spesifikasi teknis J-20 yang sering dibandingkan dengan F‑35 Lightning II:

  • Kecepatan maksimum: Mach 2,0 (sekitar 2.470 km/jam)
  • Jangkauan tempur: ±1.500 km dengan bahan bakar internal dan eksternal
  • Payload: Hingga 8 titik hardpoint, dapat membawa rudal udara‑udara, anti‑kapal, serta bom pintar
  • Avionik: Radar AESA X-band, sistem sensor fusi data, dan jaringan data link terintegrasi
  • Stealth: RCS diperkirakan kurang dari 0,1 m², bersaing dengan F‑35

Walaupun kemampuan stealth J-20 terbilang tinggi, beberapa uji coba radar Amerika Serikat mengindikasikan bahwa pesawat ini tetap menimbulkan “momok” di radar OTH‑B (Over‑The‑Horizon) serta sistem AWACS berbasis S‑band. Analisis intelijen menunjukkan bahwa pola penerbangan rendah dan kemampuan manuver tinggi J-20 memungkinkan deteksi sekilas pada jarak yang lebih jauh dibandingkan harapan awal.

Implikasi strategis dari kemampuan deteksi ini cukup signifikan. Jika radar AS dapat mengidentifikasi J-20 secara konsisten, maka keunggulan taktis China dalam operasi penindasan udara dapat berkurang, sekaligus membuka peluang bagi pihak AS untuk mengembangkan kontra‑stealth khusus. Di sisi lain, China terus mengoptimalkan versi terbaru J-20V dengan peningkatan mesin dan sistem elektronik yang diharapkan dapat menurunkan jejak radar lebih jauh lagi.

Produsen utama, Chengdu Aircraft Industry Group, melaporkan rencana produksi massal J-20 hingga akhir dekade ini, dengan target tahunan mencapai ratusan unit. Varian khusus, seperti J-20B yang difokuskan pada peran penyerangan darat, juga tengah dalam tahap finalisasi. Meski belum ada indikasi ekspor resmi, pasar potensial di negara‑negara yang tengah mengembangkan kemampuan udara modern menjadi sorotan.

Secara keseluruhan, J-20 Mighty Dragon tidak hanya menjadi simbol kebanggaan teknologi China, tetapi juga menandai perubahan dinamika kekuatan udara di kawasan Indo‑Pasifik. Keberhasilan atau kegagalan sistem stealth-nya dalam menghadapi radar AS akan menjadi indikator utama dalam persaingan teknologi militer masa depan.