LintasWarganet.com – 14 Juni 2026 | Bek tengah berpostur tinggi 1,98 meter, Harry Souttar, kembali menapaki panggung dunia setelah melewati dua luka serius yang hampir menghentikan kariernya. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia tampil impresif meski baru pulih dari cedera ligamen anterior cruciatum (ACL). Kontribusinya membantu Australia (Soccerroos) mencapai babak 16 besar, menjadi salah satu pilar utama pertahanan tim.
Latar Belakang Cedera dan Kebangkitan
Setelah menandatangani kontrak dengan Leicester City pada Januari 2023, Souttar dipinjamkan ke Sheffield United pada musim 2023/2024. Pada pertandingan melawan tim lawan, ia mengalami cedera Achilles yang parah, memaksa pemain berusia 25 tahun tersebut absen selama 16 bulan. Cedera itu menjadi ujian mental dan fisik yang berat, mengingat sebelumnya ia harus kembali dari cedera ACL pada November 2021.
Namun, tekadnya tidak padam. Pada April 2026, ia mencatatkan gol pertamanya kembali setelah kembali ke lapangan, menandai titik balik penting dalam proses rehabilitasi. Penampilan tersebut menarik perhatian pelatih nasional Australia, yang kemudian menambahkan Souttar ke skuad Piala Dunia 2026 dan menobatkannya sebagai kapten tim, sebuah kehormatan yang mencerminkan kepemimpinan serta ketangguhan yang ditunjukkannya.
Peran di Tim Nasional dan Klub
Harry Souttar dikenal sebagai target man yang handal. Tinggi badan dan kekuatan fisiknya membuatnya menjadi ancaman utama pada situasi set‑piece, baik di kotak pertahanan maupun serangan. Pada Piala Dunia 2022, ia menjadi pilihan utama dalam lini belakang, meskipun hanya menempati satu penampilan sebelum turnamen dimulai. Performanya mengukuhkan posisi dirinya sebagai pemain tak tergantikan, dan kini ia kembali dengan pengalaman tambahan sebagai kapten.
Di level klub, setelah pindah dari Stoke City (dengan nilai transfer sekitar £15 juta) ke Leicester City, ia belum mampu menembus lini pertama Premier League. Musim 2022/2023 ia hanya mencatat tiga penampilan selama 98 menit. Namun, kontribusi pada tim cadangan dan pengalaman di Championship tetap memperkaya kualitasnya.
Saudara di Panggung Dunia
Harry bukan satu-satunya anggota keluarga Souttar yang menorehkan jejak di sepak bola internasional. Kakaknya, John Souttar, berposisi sebagai bek di tim nasional Skotlandia. Kedua saudara ini tumbuh di Brechin, Skotlandia, dan menapaki karier dari akademi Dundee United yang ketat. Pada Hari pertama Piala Dunia 2026, John memimpin Skotlandia meraih kemenangan 1‑0 atas Haiti, sementara tiga jam kemudian Harry memimpin Australia mengalahkan Turki 2‑0 di Vancouver, Kanada. Meskipun mewakili negara yang berbeda, mereka berbagi kisah perjuangan melawan cedera Achilles yang berulang kali menguji John.
Keluarga Souttar pernah mengalami duka besar ketika kakak tertua, Aaron, meninggal pada usia 42 tahun akibat penyakit motor neuron. Kenangan itu menjadi pemicu semangat bagi Harry dan John, yang bahkan mengabadikannya dalam tato di tubuh masing‑mas. Kisah ini menambah dimensi emosional pada perjuangan mereka di ajang paling bergengsi.
Preview Australia vs Turki: Kunci Pertarungan
Pertandingan pembuka Grup D antara Australia dan Turki pada 14 Juni 2026 di BC Place, Vancouver, menjadi sorotan utama. Australia mengandalkan gaya permainan fisik, terorganisir, dengan lini tengah yang solid. Kehadiran Souttar sebagai target man menambah variasi serangan, terutama pada tendangan sudut dan tendangan bebas. Turki, yang kembali ke Piala Dunia setelah 24 tahun, mengandalkan kontrol teknis serta kreativitas gelandang.
- Kekuatan Australia: Pertahanan rapat, kecepatan transisi, serta ancaman aerial dari Souttar.
- Kelemahan Australia: Kurangnya kreativitas di lini depan bila tidak ada umpan terarah.
- Kekuatan Turki: Teknik individu, penguasaan bola, serta pengalaman pemain di liga top Eropa.
- Kelemahan Turki: Kurangnya kedalaman skuad dan pengalaman di fase grup turnamen.
Jika Australia dapat memanfaatkan keunggulan fisik serta memaksimalkan peran Souttar pada situasi bola mati, peluang besar untuk mengamankan tiga poin terbuka lebar. Sebaliknya, Turki perlu menahan serangan udara dan memanfaatkan kecepatan sayap untuk mengecoh pertahanan lawan.
Kesimpulan
Harry Souttar kembali menegaskan bahwa ketangguhan mental, dedikasi dalam proses rehabilitasi, dan kualitas teknis dapat mengatasi rintangan cedera serius. Menjadi kapten Australia pada usia 27 tahun, ia tidak hanya memimpin di lapangan, melainkan juga menjadi simbol kebangkitan bagi generasi pemain yang menghadapi cobaan serupa. Bersama saudara kembarnya, John, kisah Souttar menginspirasi bahwa semangat keluarga dan tekad pribadi dapat menembus batas geografis, menjadikan mereka dua wajah berbeda di panggung dunia yang sama.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet