Hari pertama sekolah usai Lebaran, siswa di Jaktim belum terima MBG
Hari pertama sekolah usai Lebaran, siswa di Jaktim belum terima MBG

Hari pertama sekolah usai Lebaran, siswa di Jaktim belum terima MBG

LintasWarganet.com – 30 Maret 2026 | Pada Senin, 2 Juni 2026, ribuan siswa di wilayah Jakarta Timur kembali menginjakkan kaki ke kelas setelah libur Lebaran. Namun suasana semangat menyambut pelajaran baru terganggu karena sebagian besar anak-anak belum menerima MBG (Makanan Bergizi Gratis) yang dijanjikan pemerintah pada awal tahun ajaran.

Di SDN Duren Sawit 02 Pagi, guru kelas menyampaikan kepada orang tua bahwa paket MBG seharusnya sudah didistribusikan pada hari pertama masuk. “Kami sudah menyiapkan jadwal penyerahan, namun sampai kini belum ada pengiriman dari Dinas Pendidikan,” ujar Ibu Siti, guru kelas 5A.

Orang tua siswa juga mengungkapkan kekecewaan mereka. “Anak‑anak kami sangat menantikan paket makanan itu, terutama karena harga pangan sedang naik. Tanpa MBG, beban ekonomi keluarga bertambah,” kata Bapak Ahmad, ayah salah satu siswa kelas 2.

Pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta menjelaskan bahwa proses pengiriman MBG mengalami penundaan akibat kendala logistik dan verifikasi data penerima. Dalam pernyataannya, Dinas menyatakan akan mempercepat distribusi dan menargetkan semua sekolah di Jakarta Timur menerima paket paling lambat akhir pekan ini.

Berikut rangkuman langkah yang dijanjikan oleh Dinas:

  • Penguatan tim logistik khusus untuk wilayah Jakarta Timur.
  • Verifikasi ulang data penerima MBG dalam tiga hari kerja.
  • Pemantauan harian oleh kepala dinas dan komite sekolah.

Sementara itu, beberapa LSM pendidikan di wilayah tersebut telah menyiapkan bantuan sementara berupa paket sembako dan makanan siap saji untuk mengurangi beban anak‑anak yang belum menerima MBG.

Para ahli pendidikan menilai bahwa keterlambatan distribusi MBG dapat memengaruhi konsentrasi belajar dan kesehatan siswa, terutama di kelas dasar yang sangat bergantung pada asupan gizi seimbang. Mereka menyerukan koordinasi yang lebih baik antara pemerintah pusat, daerah, dan penyedia logistik.

Jika masalah ini tidak segera teratasi, risiko penurunan prestasi akademik dan meningkatnya angka kehadiran tidak teratur dapat menjadi tantangan tambahan bagi sistem pendidikan di Jakarta Timur.