Harga TBS Kelapa Sawit Merosot di Kalbar dan Jambi, GAPKI Peringatkan Risiko Ekspor Satu Pintu
Harga TBS Kelapa Sawit Merosot di Kalbar dan Jambi, GAPKI Peringatkan Risiko Ekspor Satu Pintu

Harga TBS Kelapa Sawit Merosot di Kalbar dan Jambi, GAPKI Peringatkan Risiko Ekspor Satu Pintu

LintasWarganet.com – 27 Mei 2026 | Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengalami penurunan signifikan di beberapa provinsi pada pertengahan Mei 2026, menambah kekhawatiran petani dan pelaku industri tentang stabilitas pasar domestik serta dampaknya pada ekspor. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan kebijakan ekspor satu pintu yang menimbulkan kegelisahan di kalangan eksportir.

Penurunan Harga TBS di Kalimantan Barat

Dalam rapat yang melibatkan unsur pemerintah, pengusaha, dan pekebun pada 22 Mei 2026, Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalimantan Barat menetapkan harga TBS untuk periode 16‑22 Mei 2026. Harga tertinggi untuk kelapa sawit umur 10‑20 tahun turun menjadi Rp 3.636,01 per kilogram, lebih rendah Rp 69,95 dibandingkan periode sebelumnya. Harga menurun secara berjenjang sesuai umur tanaman, seperti yang tertera pada tabel berikut:

Umur Tanaman (tahun) Harga (Rp/kg)
10‑20 3.636,01
21 3.593,37
22 3.561,72
23 3.517,73
24 3.421,46
25 3.332,07
3 2.732,70
4 2.932,12
5 3.144,96
6 3.279,09
7 3.396,83
8 3.493,75
9 3.559,52

Selain TBS, rapat tersebut juga mengumumkan harga Crude Palm Oil (CPO) sebesar Rp 14.888,83/kg, Palm Kernel (PK) Rp 14.562,47/kg, serta Indeks K mencapai 92,40 %.

Harga TBS Jambi Jatuh Lebih Tajam

Provinsi Jambi mencatat penurunan harga yang lebih tajam. Pada periode 29 Mei‑4 Juni 2026, harga TBS untuk umur tanam 10‑20 tahun turun sebesar Rp 515,22 menjadi Rp 3.303,32 per kilogram. Rincian harga berdasarkan umur tanaman adalah sebagai berikut:

  • Umur 3 tahun: Rp 2.556,09/kg
  • Umur 4 tahun: Rp 2.751,90/kg
  • Umur 5 tahun: Rp 2.876,75/kg
  • Umur 6 tahun: Rp 2.995,59/kg
  • Umur 7 tahun: Rp 3.070,91/kg
  • Umur 8 tahun: Rp 3.138,24/kg
  • Umur 9 tahun: Rp 3.198,74/kg

Penurunan ini menurunkan semangat petani sawit di Jambi, mengingat harga tertinggi yang sebelumnya tercapai di pabrik hanya Rp 3.303,32/kg.

GAPKI Ingatkan Risiko Hambatan Ekspor Satu Pintu

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengeluarkan peringatan terkait skema ekspor satu pintu yang akan dijalankan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menekankan bahwa keputusan ekspor harus cepat karena harga minyak sawit bergerak dalam hitungan jam. Ia menyatakan bahwa penundaan dalam proses transaksi dapat merugikan eksportir, terutama bila harga pasar berubah drastis dalam waktu singkat.

Eddy mencontohkan situasi di Dumai, di mana harga CPO sempat berada di level Rp 15.300/kg sebelum pidato Presiden, lalu turun menjadi Rp 14.500/kg dalam dua jam, bahkan menyentuh Rp 12.300/kg setelah pasar menjadi sepi. Menurutnya, ketidakpastian mekanisme satu pintu dapat membuat importir menahan pembelian, yang pada gilirannya menekan harga domestik.

Upaya Pengawasan Harga di Sumatera Selatan

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, melalui Dinas Perkebunan (Disbun), meminta seluruh kabupaten/kota meningkatkan pengawasan atas harga pembelian TBS di lapangan. Surat imbauan No 500.8/902‑VI.3/BUN menegaskan bahwa PKS tidak boleh menurunkan harga secara sepihak, dan harus mengacu pada harga resmi yang ditetapkan secara berkala. Selain itu, pelaporan data harga secara periodik kepada Dirjen Perkebunan diwajibkan sejak 19 Mei 2026.

Langkah ini sejalan dengan upaya menjaga stabilitas pasar domestik di tengah kebijakan ekspor yang baru, serta menghindari praktik spekulatif yang dapat merugikan petani.

Secara keseluruhan, penurunan harga TBS di Kalimantan Barat dan Jambi mencerminkan tekanan pasar yang dipicu oleh kombinasi faktor musiman, kebijakan harga regional, serta ketidakpastian kebijakan ekspor satu pintu. Pemerintah daerah dan asosiasi industri berupaya menstabilkan situasi melalui koordinasi harga, pengawasan ketat, dan dialog konstruktif dengan pelaku pasar. Jika mekanisme ekspor dapat diselaraskan dengan kebutuhan cepat para eksportir, diharapkan tekanan pada harga domestik dapat berkurang, sehingga kesejahteraan pekebun tetap terjaga.