Harga Plastik Melonjak, Kemenperin Dorong Industri Mamin Beralih ke Kemasan Berbasis Kertas

LintasWarganet.com – 24 April 2026 | Kenaikan harga plastik yang signifikan pada kuartal pertama tahun ini menimbulkan tekanan berat bagi pelaku industri makanan dan minuman (Mamin). Harga resin polietilen (PE) dan polipropilen (PP) mencatat lonjakan hingga 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, memaksa produsen mencari alternatif kemasan yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengeluarkan kebijakan strategis yang mendorong perusahaan Mamin beralih ke kemasan berbasis kertas. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menurunkan beban biaya produksi, tetapi juga mendukung agenda pengurangan sampah plastik nasional.

Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh Kemenperin:

  • Pengurangan biaya: Harga kertas kraft dan karton yang relatif stabil diproyeksikan dapat menghemat hingga 15% biaya bahan baku dibandingkan plastik.
  • Ramah lingkungan: Kemasan kertas dapat terurai secara alami dalam waktu 6–12 bulan, jauh lebih cepat daripada plastik yang membutuhkan ratusan tahun.
  • Kepercayaan konsumen: Survei internal menunjukkan 68% konsumen lebih memilih produk dengan kemasan yang dapat didaur ulang.

Kemenperin juga menyediakan insentif fiskal berupa pengurangan tarif pajak impor bahan baku kertas serta subsidi untuk teknologi cetak ramah lingkungan. Selain itu, kementerian berjanji akan memfasilitasi pelatihan teknis bagi perusahaan kecil dan menengah (UKM) agar dapat mengadopsi proses produksi kemasan kertas secara efisien.

Berikut perkiraan dampak ekonomi jika industri Mamin beralih ke kemasan kertas secara luas:

Aspek Proyeksi Dampak
Penghematan biaya produksi Rp 1,2 triliun per tahun
Pengurangan sampah plastik 30 ribu ton per tahun
Peningkatan lapangan kerja di sektor kertas +12.000 pekerjaan

Meski menawarkan banyak keuntungan, transisi ke kemasan berbasis kertas tidak lepas dari tantangan. Beberapa produsen mengkhawatirkan masalah ketahanan kemasan terhadap kelembaban dan kebutuhan investasi mesin cetak baru. Oleh karena itu, Kemenperin berkomitmen untuk melakukan riset bersama perguruan tinggi dan lembaga riset guna mengembangkan kertas yang memiliki sifat tahan air dan tahan lama.

Dengan kombinasi kebijakan insentif, dukungan teknis, dan kesadaran konsumen yang semakin tinggi, diharapkan industri Mamin dapat mengurangi ketergantungan pada plastik, menstabilkan biaya produksi, dan berkontribusi pada target pengurangan sampah plastik nasional yang ditetapkan untuk 2025.