Harga Pertamax Meroket, Mahasiswa Beralih ke Pertalite, Karyawan Khawatir Motor Rusak
Harga Pertamax Meroket, Mahasiswa Beralih ke Pertalite, Karyawan Khawatir Motor Rusak

Harga Pertamax Meroket, Mahasiswa Beralih ke Pertalite, Karyawan Khawatir Motor Rusak

LintasWarganet.com – 13 Juni 2026 | Kenaikan harga Pertamax sebesar Rp16.250 per liter menimbulkan keprihatinan di kalangan pengguna kendaraan roda dua. Kenaikan ini membuat banyak konsumen, terutama kalangan mahasiswa, mempertimbangkan alternatif bahan bakar yang lebih ekonomis seperti Pertalite atau beralih ke transportasi umum.

Mahasiswa sebagai segmen pengguna kendaraan yang sensitif terhadap biaya hidup mengungkapkan bahwa mereka lebih memilih Pertalite karena selisih harga yang signifikan. Selain itu, sebagian dari mereka mulai memanfaatkan layanan transportasi berbagi atau angkutan umum untuk mengurangi beban pengeluaran bahan bakar.

Sementara itu, pekerja kantoran yang mengandalkan sepeda motor untuk mobilitas harian menyuarakan kekhawatiran terkait potensi kerusakan mesin akibat penggunaan bahan bakar yang lebih murah. Beberapa mekanik menegaskan bahwa perbedaan oktan antara Pertamax (RON 92) dan Pertalite (RON 90) dapat memengaruhi performa mesin, terutama pada kendaraan dengan teknologi injeksi langsung.

  • Harga Pertamax: naik Rp16.250 per liter.
  • Pertalite: menjadi pilihan ekonomis dengan selisih harga sekitar Rp5.000‑Rp6.000 per liter.
  • Keluhan utama: biaya bahan bakar meningkat, potensi kerusakan mesin, dan beban ekonomi bagi mahasiswa.

Para ahli menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi dampak kenaikan harga bahan bakar, antara lain:

  1. Melakukan perawatan rutin mesin agar tetap optimal meski menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah.
  2. Mengoptimalkan gaya berkendara, seperti mengurangi akselerasi mendadak dan mempertahankan kecepatan konstan.
  3. Mempertimbangkan penggunaan kendaraan listrik atau hibrida untuk jangka panjang.

Dengan situasi ini, pemerintah dan pihak industri diharapkan dapat meninjau kembali kebijakan subsidi atau memberikan insentif bagi pengguna kendaraan bermotor agar beban biaya bahan bakar tidak memberatkan lapisan masyarakat yang paling rentan.