Erin Wartia Ungkap Trauma Mencari ART Baru Usai Polemik dengan Mantan Asisten Rumah Tangga
Erin Wartia Ungkap Trauma Mencari ART Baru Usai Polemik dengan Mantan Asisten Rumah Tangga

Erin Wartia Ungkap Trauma Mencari ART Baru Usai Polemik dengan Mantan Asisten Rumah Tangga

LintasWarganet.com – 21 Mei 2026 | Jakarta – Penyanyi sekaligus presenter Erin Wartia kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan perasaan traumatis yang ia alami dalam proses mencari Asisten Rumah Tangga (ART) baru. Ungkapan tersebut muncul menyusul polemik yang melibatkan mantan ART-nya, Herawati Ramaindi, yang sempat ramai dibahas di media sosial.

Erin menyatakan bahwa meski namanya terus terdengar di berbagai platform, ia tidak mengalami kesulitan dalam menemukan pekerja rumah tangga baru. Namun, ia menekankan adanya beban psikologis yang tidak dapat diabaikan. “Saya merasa tertekan setiap kali harus memikirkan proses rekrutmen lagi, mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya,” ujar Erin dalam sebuah pernyataan resmi yang dibagikan melalui akun media sosialnya.

Polemik antara keduanya bermula ketika Herawati mengungkapkan sejumlah keluhan terkait perlakuan selama masa kerja. Tuduhan tersebut memicu perdebatan publik mengenai hak-hak pekerja rumah tangga serta tanggung jawab majikan. Sejumlah netizen pun membagi pendapat, ada yang mendukung Herawati, sementara yang lain mempertahankan posisi Erin.

Dalam menanggapi situasi tersebut, Erin menegaskan bahwa ia selalu berusaha memberikan kondisi kerja yang layak dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ia juga menambahkan bahwa proses pencarian ART baru dilakukan melalui agen resmi yang menyediakan screening ketat, sehingga kualitas pelayanan tetap terjaga.

Berikut beberapa poin penting yang disampaikan Erin dalam pernyataannya:

  • Trauma yang dirasakan bukan berarti tidak dapat menemukan ART baru, melainkan tekanan emosional yang mengiringinya.
  • Ia menegaskan bahwa proses rekrutmen tetap mengikuti prosedur standar, termasuk verifikasi dokumen dan wawancara.
  • Erin berharap publik dapat memahami bahwa konflik ini bersifat pribadi dan tidak mencerminkan keseluruhan hubungan antara majikan dan pekerja rumah tangga di Indonesia.