Dukung Percepatan Pembangunan SPPG di Papua, Menteri Pertanian Siapkan Ekosistem Pangan
Dukung Percepatan Pembangunan SPPG di Papua, Menteri Pertanian Siapkan Ekosistem Pangan

Dukung Percepatan Pembangunan SPPG di Papua, Menteri Pertanian Siapkan Ekosistem Pangan

LintasWarganet.com – 29 April 2026 | Menteri Pertanian Republik Indonesia menegaskan komitmen pemerintah dalam mempercepat pembangunan 2.572 Sekolah Penggerak Pangan (SPPG) di provinsi Papua. Inisiatif ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan akses pendidikan berbasis pertanian di daerah terpencil.

Ekosistem pangan yang disiapkan mencakup tiga pilar utama: infrastruktur produksi, pendampingan akademik, dan jaringan distribusi lokal. Pemerintah menargetkan penyelesaian fase awal pembangunan SPPG dalam dua tahun ke depan, dengan anggaran khusus yang dialokasikan melalui Kementerian Pertanian.

Berikut rincian langkah strategis yang akan dilaksanakan:

  • Pengembangan Infrastruktur: Pembangunan laboratorium, kebun percobaan, dan fasilitas penyimpanan hasil pertanian di setiap SPPG.
  • Kolaborasi Perguruan Tinggi: Universitas negeri dan swasta di Papua serta lembaga riset pertanian akan menyediakan kurikulum, tenaga pengajar, serta program magang bagi siswa.
  • Tim Ekspedisi Patriot: Kelompok ahli pertanian, teknisi, dan relawan akan melakukan survei lapangan, membantu instalasi peralatan, serta memberikan pelatihan langsung kepada komunitas setempat.
  • Sistem Distribusi: Pengembangan pasar mikro dan jaringan logistik berbasis digital untuk memastikan hasil pertanian siswa dapat dipasarkan secara efisien.

Beberapa universitas yang telah menandatangani nota kesepahaman meliputi Universitas Papua, Universitas Cenderawasih, dan Institut Teknologi Nasional. Mereka akan menyediakan dosen tamu, modul pembelajaran berbasis praktik, serta fasilitas penelitian yang relevan dengan kondisi agroklimat Papua.

Tim Ekspedisi Patriot, yang sebelumnya terlibat dalam program revitalisasi lahan pertanian di wilayah lain, kini diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan marginal di Papua melalui teknologi pertanian presisi dan praktik agroforestry. Tim ini juga akan melatih guru lokal agar dapat melanjutkan pendampingan setelah fase awal selesai.

Pembangunan SPPG diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani keluarga, serta menurunkan ketergantungan pada impor pangan. Dengan ekosistem yang terintegrasi, siswa SPPG dapat belajar langsung dari proses produksi hingga pemasaran, sehingga menghasilkan generasi yang siap bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Implementasi program akan dipantau secara berkala melalui rapat koordinasi lintas kementerian, lembaga penelitian, serta perwakilan masyarakat adat. Laporan evaluasi pertama dijadwalkan pada akhir 2025, dengan harapan dapat memperlihatkan peningkatan signifikan pada produksi pangan lokal dan kualitas pendidikan pertanian di Papua.