Drama Penalty, Kerusuhan, dan Kepulangan Ajax di Volendam: Kemenangan Tipis atas FC Utrecht Raih Tiket UEFA Conference League
Drama Penalty, Kerusuhan, dan Kepulangan Ajax di Volendam: Kemenangan Tipis atas FC Utrecht Raih Tiket UEFA Conference League

Drama Penalty, Kerusuhan, dan Kepulangan Ajax di Volendam: Kemenangan Tipis atas FC Utrecht Raih Tiket UEFA Conference League

LintasWarganet.com – 25 Mei 2026 | Amsterdam, 24 Mei 2026 – Pada Minggu sore kemarin, stadion Kras di Volendam menjadi saksi laga krusial antara Ajax dan FC Utrecht dalam putaran akhir play‑off Eredivisie. Setelah 120 menit bermain tanpa terlewat, kedua tim terpaksa menyelesaikan pertarungan mereka lewat adu penalti, di mana Ajax berhasil mengamankan tiket ke babak kualifikasi UEFA Conference League.

Laga Penentu Tempat di UEFA Conference League

Pertandingan dimulai dengan intensitas tinggi, namun kedua belah pihak belum mampu memecah kebuntuan. Pada menit ke‑2 dan ke‑7, Maarten Paes, kiper asal Indonesia yang kini membela Ajax, melakukan dua penyelamatan penting atas tembakan Mike van der Hoorn dan Souffian El Karouani. Kedua penyelamatan tersebut menjaga keunggulan defensif Ajax selama 90 menit pertama.

Setelah jeda, Ajax berhasil memecah kebuntuan pada menit ke‑96 melalui serangan balik Davy Klaassen yang memanfaatkan bola longgar dari tendangan sudut. Namun, keunggulan itu tidak bertahan lama; hanya sepuluh menit kemudian, Gjivai Zechiel dari Utrecht menyeimbangkan skor, menjadikan hasil akhir 1‑1 dan memaksa pertandingan masuk ke babak tambahan waktu.

Babak perpanjangan waktu tetap tak menghasilkan gol tambahan, sehingga keputusan akhir ditentukan di atas sepuluh tembakan penalti. Maarten Paes tampil sebagai pahlawan kembali, menepis dua tembakan penalti dari pemain Utrecht, termasuk satu dari mantan striker Ajax, Sébastien Haller. Dengan tekanan maksimal, Davy Klaassen mengeksekusi penalti terakhir Ajax, memastikan kemenangan 5‑4 dan menutup drama pada akhir pekan.

Kekacauan Pasca Pertandingan

Namun, euforia kemenangan segera berubah menjadi kerusuhan. Sekelompok pendukung Ajax yang meluap‑luap memadahi lapangan setelah peluit akhir, sementara suporter Utrecht mencoba menembus area tribun tamu. Petugas Satuan Mobil (ME) dan anjing polisi harus turun menggunakan gas air mata untuk memisahkan kedua kubu. Dalam situasi memanas, sejumlah suporter Utrecht melemparkan batu ke arah polisi, melukai jendela sebuah bangunan di sekitar stadion.

Polisi berhasil mengamankan situasi dan menahan satu pendukung Ajax yang diduga melakukan penganiayaan terhadap sesama pendukung di dalam stadion. Pada pukul 16.00 WIB, tim pendukung Utrecht kembali ke kota asal mereka dengan pengawalan polisi.

Dinamika Manajer dan Daftar Pemain

Di sela‑sela ketegangan di lapangan, interim manajer Ajax, Óscar García, tampak berada di persimpangan karir. Dalam konferensi pers usai laga, García mengakui bahwa timnya berlatih adu penalti selama seminggu terakhir, meski ia pribadi tidak mempercayai taktik tersebut. Ia menutup konferensi dengan pernyataan bahwa ini mungkin menjadi pertemuan pers terakhirnya bersama Ajax.

Kabar kepindahan meluas: Wout Weghorst, yang sempat kembali ke skuad, kini mengumumkan kepergiannya, dan menurut laporan Algemeen Dagblad, sebanyak 17 pemain dijadwalkan meninggalkan Ajax pada musim panas ini. Sementara itu, nama Míchel, mantan pelatih Girona, muncul sebagai kandidat kuat untuk mengisi posisi kepala pelatih musim depan, dengan dukungan Jordi Cruijff.

Analisis Statistik Pra‑Pertandingan

  • Ajax menempati posisi 1 di klasemen Eredivisie dengan catatan W‑D‑L: 2‑0‑0 pada lima pertandingan terakhir.
  • Utrecht berada di urutan ke‑5 dengan performa W‑W‑W‑W‑L pada lima laga terakhir.
  • Probabilitas kemenangan Ajax diprediksi 44,69% dengan skor akhir paling mungkin 2‑1.

Data statistik menunjukkan kedua tim memiliki peluang hampir seimbang, namun pengalaman Ajax dalam adu penalti menjadi penentu utama pada malam itu.

Dengan kemenangan ini, Ajax melangkah ke fase kualifikasi UEFA Conference League, sementara Utrecht harus menerima nasib gagal di play‑off. Meski demikian, kerusuhan pasca pertandingan menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dalam event sepak bola di Belanda, khususnya di stadion dengan kapasitas terbatas seperti Kras.

Ke depan, Ajax dihadapkan pada tantangan memperkuat skuadnya menjelang kompetisi Eropa, sementara manajemen klub harus segera menentukan nasib Óscar García dan menyiapkan transisi pelatih baru. Bagi para suporter, kemenangan tipis ini memberikan harapan baru, namun insiden kekerasan di lapangan menegaskan perlunya langkah-langkah keamanan yang lebih ketat.