LintasWarganet.com – 08 April 2026 | Zenica menjadi saksi bisu dari salah satu kegagalan paling memalukan dalam sejarah sepak bola Italia. Pada malam 6 April 2026, tim nasional Azzurri berhadapan dengan Bosnia-Herzegovina dalam laga penentu tempat di Piala Dunia FIFA 2026. Setelah serangkaian kesalahan tak terduga, Italia kehilangan peluangnya dan menutup babak kualifikasi yang ketiga beruntun tanpa melaju ke turnamen terbesar dunia.
Insiden paling mencolok muncul dari sudut lapangan: seorang anak berusia 14 tahun bernama Afan Cizmic, yang bertugas sebagai ball boy, secara tidak sengaja mengamankan catatan taktik penalti milik Gianluigi Donnarumma. Catatan itu, yang berisi urutan arah tendangan yang direncanakan, hilang dari kantong kiper bintang Italia. Tanpa panduan tersebut, Donnarumma tampak kebingungan, meleset ke arah yang salah pada setiap tembakan lawan, dan bahkan melontarkan keluhan keras kepada wasit setelah setiap percobaan.
Kesalahan teknis ini menjadi katalis utama kegagalan Italia dalam adu penalti yang berakhir 5-3 untuk Bosnia. Meski Francesco Pio Esposito menahan tekanan dengan mengeksekusi tendangan pertama, tim Italia tidak mampu menutup kekurangan yang terjadi sejak awal. Penampilan defensif Alessandro Bastoni yang mendapat kartu merah di babak pertama menambah beban moral, sementara kegagalan penyerang lainnya menimbulkan kritik tajam dari media dan publik.
Reaksi di dalam negeri Italia pun bergejolak. Gennaro Gattuso, pelatih yang diangkat secara mendadak untuk menyelamatkan kampanye, mengundurkan diri pada hari Jumat setelah kekalahan tersebut. Ia mengaku mengorbankan hak finansialnya demi kebaikan FIGC (Federazione Italiana Giuoco Calcio). Gianluigi Buffon, kepala delegasi, juga mengumumkan niat untuk mengundurkan diri, menyatakan rasa tanggung jawabnya yang mendalam.
Presiden FIGC, Gabriele Gravina, menghadapi tekanan politik yang semakin keras. Setelah menolak mengundurkan diri pada kegagalan 2022, ia akhirnya menyerah pada opini publik dan meminta maaf secara terbuka. Ia menyinggung ketidakpuasan terhadap struktur organisasi yang dianggap “tidak teratur” dan menyoroti kebutuhan reformasi menyeluruh.
Di sisi lain, spekulasi mengenai pengganti Gattuso pun melesat. Aurelio De Laurentiis, presiden Napoli, menyatakan kesediaannya membiarkan Antonio Conte melanjutkan kariernya sebagai pelatih nasional, namun menilai federasi saat ini terlalu kacau untuk menampung kecerdasan dan ambisi Conte. De Laurentiis menekankan bahwa perubahan struktural, termasuk penunjukan Giovanni Malago sebagai komisaris interim, menjadi prasyarat utama bagi stabilitas tim nasional.
Media Italia menyoroti juga perasaan kecewa para pemain. Inter Milan menegaskan dukungan kepada Alessandro Bastoni, menganggap perlakuan publik terhadapnya “memalukan”. Cristian Chivu, mantan pelatih Inter, mengingatkan bahwa Bastoni berkorban dengan bermain meski baru pulih dari cedera, namun sorotan publik lebih mengarah pada kritik terhadap keputusan Gattuso.
Selain drama di dalam lapangan, fenomena budaya muncul di Bosnia. Afan Cizmic, yang sebelumnya tidak dikenal, kini menjadi pahlawan lokal. Wawancara televisi menampilkan kebanggaannya atas peran “pencuri catatan” yang diyakini membawa keberuntungan bagi tim Bosnia. Beberapa pendukung bahkan menyerukan agar Cizmic dijadikan talisman dalam turnamen Piala Dunia, meski masih jauh dari realita.
Kesimpulannya, kegagalan Italia bukan sekadar hasil buruk di lapangan, melainkan cerminan masalah struktural, manajerial, dan psikologis yang mengakar. Dari keputusan taktis yang keliru, hingga kebijakan federasi yang dianggap tidak responsif, semuanya berkontribusi pada krisis yang kini melanda sepak bola Italia. Jika reformasi tidak segera dilaksanakan, kemungkinan besar Italia akan terus terpinggirkan dari panggung dunia, mengorbankan warisan “Azzurri” yang selama ini menjadi kebanggaan nasional.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet