Drama di L.A.: Iran FC Tertahan, Skor 2-2, dan Kontroversi "Gun" Celebration
Drama di L.A.: Iran FC Tertahan, Skor 2-2, dan Kontroversi "Gun" Celebration

Drama di L.A.: Iran FC Tertahan, Skor 2-2, dan Kontroversi “Gun” Celebration

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | Tim nasional sepak bola Iran membuka kampanye mereka di Piala Dunia 2026 dengan serangkaian insiden yang mencuat di luar lapangan. Dari perubahan mendadak basis kamp, larangan menginap di Los Angeles, hingga perayaan gol yang dianggap kontroversial, seluruh episode menambah tekanan pada skuad yang dipimpin pelatih berpengalaman Amir Ghalenoei.

Kendala Perjalanan dan Tuduhan Penindasan

Pada tanggal 15 Juni 2026, tim Iran tiba di Amerika Serikat dengan harapan dapat beristirahat semalam di Los Angeles sebelum pertandingan melawan New Zealand pada keesokan harinya. Namun, otoritas yang tidak disebutkan menolak permohonan mereka untuk menginap, memaksa seluruh rombongan kembali ke Mexico pada malam yang sama. Ghalenoei, yang berusia 62 tahun, menyebut kejadian ini sebagai bentuk “penindasan” yang menimpa timnya, menambahkan bahwa perubahan basis kamp dari Arizona ke Mexico dilakukan karena ketidakpastian visa Amerika Serikat serta tekanan politik yang melingkupi kehadiran Iran di tanah Amerika.

Pelatih menegaskan bahwa selain larangan menginap, sejumlah staf pendukung tidak dapat memperoleh visa, memaksa para pelatih mengambil peran tambahan di bangku cadang. “Manajemen kami, banyak yang tidak hadir. Kami harus menanggung peran mereka sendiri,” ujarnya.

Pertandingan yang Memukau: Iran vs New Zealand

Meski terganggu oleh perjalanan yang melelahkan, Iran berhasil mengamankan hasil imbang 2-2 melawan New Zealand di Los Angeles Stadium. Pertandingan berlangsung pada 16 Juni 2026 dengan sorotan pada dua gol balasan Iran yang menegaskan karakter juang tim.

  • 32’ – Ramin Rezaeian: Gol pertama Iran datang melalui sundulan tajam Rezaeian setelah umpan dari rekan setim, mengembalikan keunggulan tim setelah New Zealand unggul lewat Elijah Just.
  • 64’ – Mohammad Mohebi: Gol kedua dicetak oleh winger Mohebi, yang menanduk bola di kotak penalti lawan untuk menyamakan kedudukan menjelang akhir babak pertama.

Sementara New Zealand mencetak gol melalui Elijah Just pada menit ke-7 dan kembali menambah lewat Just pada menit ke-54, hasil akhir tetap imbang, menandai debut Iran yang penuh drama namun tetap kompetitif.

Kontroversi Perayaan “Senapan” Mohebi

Setelah mencetak gol penyeimbang, Mohebi melancarkan perayaan yang menimbulkan sorotan internasional. Ia berlari ke pinggir lapangan, mengangkat tangan kanan seolah-olah menembakkan pistol ke udara. Video perayaan tersebut menyebar luas, memicu tuduhan bahwa gestur tersebut mengandung makna politik atau provokatif. Meskipun tidak ada pernyataan resmi dari FIFA mengenai sanksi, peristiwa ini menambah beban psikologis pada pemain yang sudah berada di bawah tekanan tinggi.

Mohebi, yang bermain untuk klub Rusia FC Rostov, kemudian menyatakan bahwa gesturnya hanya merupakan ekspresi kebahagiaan pribadi tanpa maksud menyinggung pihak manapun. Namun, pengamat menilai bahwa dalam konteks ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, gestur tersebut sulit dipisahkan dari interpretasi politik.

Reaksi Pemain, Pelatih, dan Pihak Berwenang

Mehdi Taremi, kapten tim, menilai bahwa faktor eksternal telah mengganggu performa skuad. “Tidak baik bagi kami, tidak baik bagi sepak bola. FIFA seharusnya memberikan bantuan lebih,” ujarnya dalam wawancara pasca pertandingan.

Presiden FIFA Gianni Infantino dikabarkan mengunjungi ruang ganti Iran pada hari pertandingan, mendengarkan keluhan tim secara langsung. Namun, hingga saat ini tidak ada klarifikasi resmi mengenai tindakan konkret yang akan diambil terkait larangan menginap atau masalah visa.

Tim medis Iran melaporkan bahwa beberapa pemain mengalami kram otot, yang mereka kaitkan dengan kelelahan akibat perjalanan berulang antara Tijuana, Los Angeles, dan kembali ke Mexico dalam rentang waktu singkat.

Secara keseluruhan, Iran menunjukkan kemampuan bangkit dari ketertinggalan, namun tantangan logistik dan politik terus membayangi performa mereka di turnamen.

Ke depan, skuad Iran akan menghadapi lawan berikutnya dengan harapan dapat mengatasi hambatan non‑teknis dan fokus pada kualitas permainan. Jika mereka mampu menyalurkan semangat juang yang sama, peluang untuk melaju ke fase lanjutan tetap terbuka, meski perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 masih dipenuhi ketidakpastian.