Dorong Rupiah Lebih Perkasa, Bank Indonesia Kerek BI-Rate Jadi 5,25 Persen
Dorong Rupiah Lebih Perkasa, Bank Indonesia Kerek BI-Rate Jadi 5,25 Persen

Dorong Rupiah Lebih Perkasa, Bank Indonesia Kerek BI-Rate Jadi 5,25 Persen

LintasWarganet.com – 20 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) pada hari Selasa (26/05/2024) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25 persen. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap gejolak nilai tukar rupiah yang dipicu oleh ketegangan geopolitik, khususnya konflik yang terjadi di Timur Tengah, serta sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas inflasi menjelang tahun 2026 dan 2027.

Beberapa faktor utama yang mendorong kebijakan tersebut antara lain:

  • Fluktuasi pasar global: Harga energi dan komoditas yang tidak menentu menimbulkan tekanan pada nilai tukar.
  • Risiko inflasi: Proyeksi inflasi tahun depan diperkirakan tetap berada di atas target bank sentral.
  • Kebijakan moneter luar negeri: Pengetatan kebijakan suku bunga di negara-negara maju menambah beban bagi emerging market.

Kenaikan BI Rate diharapkan dapat memperkuat rupiah dengan meningkatkan imbal hasil obligasi dalam negeri, sehingga menarik arus modal asing kembali ke pasar domestik. Selain itu, suku bunga yang lebih tinggi dapat menurunkan permintaan kredit konsumsi yang berpotensi menahan laju inflasi.

Analisis para ekonom menunjukkan bahwa langkah ini bersifat pre‑emptive. Dr. Andi Prasetyo, ekonom senior di sebuah lembaga riset, menyatakan, “Kenaikan 0,25 poin persentase masih berada dalam toleransi pasar, namun memberikan sinyal kuat bahwa BI siap menanggapi dinamika eksternal bila diperlukan.”

Namun, kebijakan yang lebih ketat juga menimbulkan kekhawatiran bagi sektor usaha yang bergantung pada pinjaman jangka pendek. Bank Indonesia menegaskan bahwa dukungan likuiditas akan tetap tersedia bagi perusahaan yang memiliki profil risiko sehat.

Keputusan ini selaras dengan strategi jangka panjang BI untuk menstabilkan nilai tukar dan menurunkan inflasi secara berkelanjutan. Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan terus memantau perkembangan ekonomi global serta kondisi domestik untuk menyesuaikan kebijakan moneter selanjutnya.