Doa Minum Susu Putih 1 Muharram 1448 H: Tradisi, Makna Spiritual, dan Ajakan Hijrah di Seluruh Indonesia
Doa Minum Susu Putih 1 Muharram 1448 H: Tradisi, Makna Spiritual, dan Ajakan Hijrah di Seluruh Indonesia

Doa Minum Susu Putih 1 Muharram 1448 H: Tradisi, Makna Spiritual, dan Ajakan Hijrah di Seluruh Indonesia

LintasWarganet.com – 17 Juni 2026 | Setiap tahun, umat Islam di Indonesia menyambut pergantian kalender Hijriah dengan beragam ritual yang sarat makna. Salah satu tradisi yang semakin populer adalah doa minum susu putih pada malam pertama Muharram, khususnya tahun 1448 H yang jatuh pada 16-17 Juni 2026. Praktik ini tidak hanya menjadi sarana bersyukur, tetapi juga simbol kebersihan, harapan, dan semangat hijrah yang digalakkan oleh tokoh‑tokoh agama dan pemimpin daerah.

Sejarah dan Makna Doa Minum Susu Putih

Tradisi doa minum susu putih pada 1 Muharram pertama kali dipopulerkan oleh Abuya Sayyid Muhammad Alawi Al‑Maliki, seorang ulama keturunan Rasulullah SAW yang berasal dari Makkah. Menurut catatan Majelis Ulama Indonesia (MUI), ibadah ini dilakukan setelah maghrib hingga sebelum subuh, dengan menyiapkan segelas susu putih dan membaca doa khusus.

Doa yang dibaca dalam bahasa Arab, latin, dan terjemahannya adalah sebagai berikut:

  • Arab: أَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
  • Latin: Allahumma baarik lanaa fiihi wazidnaa minhu
  • Artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di dalam air susu ini dan tambahlah keberkahan kami darinya.”

Doa ini selaras dengan hadits riwayat Ibnu Majah yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW selalu memohon keberkahan atas makanan dan minuman, khususnya susu, yang diyakini memiliki khasiat menyehatkan. Dalam hadits tersebut, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa dianugerahi makanan oleh Allah, hendaklah ia mengucapkan… ‘Ya Allah, berikanlah kami keberkahan padanya dan tambahkanlah kami darinya.’ Sesungguhnya aku tidak mengetahui makanan dan minuman yang bermanfaat kecuali susu.”

Pelaksanaan di Pesantren Situbondo

Di Jawa Timur, Pondok Pesantren Nurul Huda, Kabupaten Situbondo, menghidupkan kembali tradisi ini dengan semangat tinggi. Setiap malam 1 Muharram, para santri, alumni, dan warga sekitar berkumpul untuk minum susu putih. Menurut salah satu santri, Miftahul Huda, susu putih melambangkan “awal tahun baru yang bersih dan penuh kebaikan.” Pengasuh pesantren, Habib Muhammad Taufik bin Musthofa Al‑Jufri, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan ikhtiar spiritual untuk menuntun rezeki, amal ibadah, dan kehidupan yang “putih bersih, suci, dan diberkahi Allah SWT.”

Suasana di pondok terasa penuh antusiasme; para peserta berebut mendapatkan gelas susu yang telah disiapkan. Selama acara, dibacakan doa bersama, dilanjutkan dengan shalat hajat dan pembacaan surah pendek, menegaskan nilai kebersamaan dan keimanan yang terpadu.

Ajakan Hijrah dan Muhaasabah oleh Wakil Gubernur Kaltim

Di Kalimantan Timur, Wakil Gubernur Seno Aji memanfaatkan momentum 1 Muharram untuk menggalang semangat hijrah dan muhasabah di kalangan masyarakat. Pada sebuah acara di Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center, Samarinda, Seno Aji menyerukan agar tahun baru Islam dijadikan ajang introspeksi diri, memperkuat niat hijrah, serta memohon perlindungan dari bencana. Ia menekankan pentingnya doa bersama, termasuk doa minum susu, sebagai sarana memperkuat ikatan spiritual antara individu, komunitas, dan negara.

Acara tersebut juga menampilkan tabligh akbar dengan pendakwah nasional, menegaskan bahwa tradisi minum susu putih tidak hanya bersifat lokal, melainkan dapat menjadi simbol persatuan umat dalam rangka memperkuat keimanan dan harapan akan tahun yang lebih baik.

Makna Simbolik Susu Putih dalam Konteks Islam

Susu putih memiliki konotasi kebersihan dan nutrisi yang melambangkan harapan akan “tahun yang putih, bersih, dan dipenuhi kebaikan.” Dalam perspektif Islam, susu dianggap sebagai makanan yang dianugerahkan Allah, mengandung manfaat fisik dan rohani. Doa yang diucapkan sebelum meminumnya mencerminkan rasa syukur, permohonan keberkahan, serta harapan agar segala aspek kehidupan dipenuhi cahaya iman.

Dengan menggabungkan unsur keagamaan (doa dan hadits), budaya lokal (tradisi pesantren), dan pesan politik (ajakan hijrah), praktik minum susu pada 1 Muharram menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda, tokoh agama, dan pejabat publik dalam satu rangkaian ibadah yang bermakna.

Praktik ini juga memperlihatkan fleksibilitas Islam dalam menyesuaikan ritual dengan konteks sosial‑kultural, tanpa menghilangkan esensi spiritualitas. Bagi banyak umat, meneguk segelas susu sambil membaca doa menjadi cara sederhana namun kuat untuk memulai tahun baru dengan niat yang bersih, harapan yang tinggi, dan doa yang tulus.

Ke depan, diharapkan tradisi ini terus meluas ke berbagai wilayah, menginspirasi lebih banyak komunitas untuk mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari‑hari, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam rangka menapaki tahun Hijriah yang baru.