Dicopot dari Jabatannya, Ini 5 Pernyataan Kontroversial Eks Kepala BGN Dadan Hindayana, Nomor 2 Paling Absurd
Dicopot dari Jabatannya, Ini 5 Pernyataan Kontroversial Eks Kepala BGN Dadan Hindayana, Nomor 2 Paling Absurd

Dicopot dari Jabatannya, Ini 5 Pernyataan Kontroversial Eks Kepala BGN Dadan Hindayana, Nomor 2 Paling Absurd

LintasWarganet.com – 03 Juni 2026 | Presiden Joko Widodo resmi mencabut Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada pertengahan Mei 2024 setelah serangkaian kritik publik atas sejumlah pernyataannya yang dianggap menimbulkan kebingungan dan kontroversi. Selama memimpin BGN, Dadan tidak segan mengemukakan pandangan yang melenceng dari konsensus ilmiah, mulai dari rekomendasi konsumsi susu hingga usulan protein alternatif yang menimbulkan gelombang perdebatan.

Berikut lima pernyataan paling menonjol yang menjadi sorotan publik, dengan nomor dua yang paling absurd menurut banyak netizen.

  • Pernyataan 1: Dadan menyarankan bahwa konsumsi susu setiap hari dapat meningkatkan daya tahan tubuh secara signifikan, bahkan mengklaim bahwa susu dapat melindungi dari virus COVID‑19. Klaim ini menuai kecaman para ahli gizi yang menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung perlindungan spesifik terhadap virus melalui konsumsi susu.
  • Pernyataan 2 (Absurd): Dalam sebuah wawancara, Dadan mengusulkan bahwa ulat (caterpillar) dapat dijadikan sumber protein alternatif dalam program Makan Berkah Gizi (MBG) untuk mengatasi kekurangan gizi pada anak-anak. Ia berargumen bahwa ulat memiliki nilai gizi tinggi dan mudah dibudidayakan. Pernyataan ini dianggap paling absurd karena tidak ada regulasi atau studi yang mendukung keamanan konsumsi ulat bagi manusia, terutama anak-anak.
  • Pernyataan 3: Dadan mengemukakan bahwa menambahkan gula kelapa ke dalam susu formula dapat meningkatkan kandungan nutrisi dan membantu pertumbuhan bayi. Para pediatrik menolak saran tersebut, menekankan risiko peningkatan gula tambahan pada bayi.
  • Pernyataan 4: Ia menegaskan bahwa diet berbasis nasi merah saja sudah cukup memenuhi kebutuhan mikronutrien bagi keluarga berpenghasilan rendah, tanpa perlu suplementasi tambahan. Ahli gizi menilai pandangan ini menyederhanakan kebutuhan gizi yang sebenarnya lebih kompleks.
  • Pernyataan 5: Dadan mengklaim bahwa program pemberian makanan tambahan berbasis ikan teri dapat menurunkan tingkat anemia pada wanita hamil secara drastis. Meskipun ikan teri memang kaya zat besi, para peneliti memperingatkan bahwa program harus disertai dengan edukasi cara pengolahan yang tepat agar penyerapan zat besi optimal.

Reaksi publik terhadap pernyataan-pernyataan tersebut beragam, namun mayoritas menuntut klarifikasi dan bukti ilmiah yang kuat sebelum kebijakan publik diimplementasikan. Keputusan pencopotan Dadan Hindayana dianggap sebagai langkah pemerintah untuk menegaskan pentingnya kebijakan berbasis data ilmiah dalam upaya meningkatkan gizi bangsa.

Ke depan, BGN diperkirakan akan menunjuk pemimpin baru yang lebih mengedepankan kolaborasi dengan lembaga riset dan pakar gizi internasional, guna memastikan program-program nutrisi berjalan sesuai standar kesehatan global.