LintasWarganet.com – 09 Juni 2026 | Jakarta, 9 Juni 2026 – Mantan Menteri Keuangan Muhammad Chatib Basri kembali muncul di panggung politik setelah mendatangi Istana Negara bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan. Kedua tokoh itu dipanggil oleh Presiden Prabowo Subianto pada sore hari Selasa, menimbulkan spekulasi luas mengenai arah kebijakan fiskal dan kemungkinan perombakan kepengurusan Kementerian Keuangan.
Latar Belakang Pertemuan
Menurut keterangan yang diberikan oleh Chatib Basri kepada wartawan di luar Istana, panggilan tersebut datang secara pribadi dari Presiden. Chatib menegaskan kehadirannya tidak bersifat empat mata, melainkan bersama Luhut sebagai wakil DEN yang rutin melaporkan hasil kerja dewan setiap lima minggu. Luhut menambahkan bahwa laporan tersebut mencakup evaluasi kondisi ekonomi nasional, termasuk perkembangan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belakangan mengalami penurunan.
Spekulasi Pergantian Menteri Keuangan
Keberadaan Chatib di Istana menambah bahan bakar bagi rumor yang telah beredar sejak beberapa minggu lalu, yaitu potensi pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan. Nama Chatib Basri sempat disebut-sebut sebagai pengganti potensial, mengingat reputasinya sebagai “spesialis krisis ekonomi” yang berhasil menstabilkan Indonesia pada masa Taper Tantrum 2013. Namun, ketika ditanya tentang kemungkinan tersebut, Chatib menjawab singkat, “Saya tidak tahu,” dan menolak memberikan detail agenda pertemuan.
Pengalaman Basri dalam Krisis Ekonomi
Chatib Basri pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan pada periode 2013‑2014, di mana ia memimpin serangkaian kebijakan pengetatan fiskal, peningkatan suku bunga Bank Indonesia, serta penerapan kebijakan expenditure‑switching. Kombinasi langkah tersebut berhasil mengeluarkan Indonesia dari kelompok “fragile five” dalam waktu tujuh bulan, sekaligus memperkuat cadangan devisa dan menurunkan tekanan pada rupiah. Pengalaman ini menjadi referensi utama dalam setiap diskusi kebijakan ekonomi yang melibatkan dirinya.
Pandangan Basri tentang Kebijakan Fiskal
Dalam acara Grab Business Forum 2026 yang diadakan di Jakarta pada hari yang sama, Chatib menguraikan tiga pilar utama yang dapat dipilih oleh Menteri Keuangan untuk mengatasi tekanan fiskal: menaikkan penerimaan negara, memotong belanja, atau menambah utang. Ia menekankan bahwa pilihan ketiga, yaitu peningkatan pinjaman, menjadi kurang menarik karena biaya pendanaan yang kini tinggi. “Raise revenue, potong, pinjem – itu saja,” ujar Basri tanpa menambahkan alternatif lain.
Untuk meningkatkan penerimaan, Basri menyarankan kenaikan pajak, namun mengakui bahwa langkah ini sulit diterapkan tanpa menimbulkan beban pada sektor usaha. Sebaliknya, ia mengusulkan rasionalisasi belanja pemerintah secara selektif, mengingat pertumbuhan belanja pada kuartal I 2026 mencapai 20‑22 persen yang dipicu oleh konsumsi rumah tangga selama Ramadan dan Lebaran. Menurutnya, peningkatan belanja tidak dapat dipertahankan sepanjang tahun tanpa menimbulkan defisit anggaran yang melebihi 3 persen.
Analisis Dampak terhadap Ekonomi RI
Chatib menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak seburuk yang dipersepsikan pasar. Konsumsi rumah tangga tetap kuat, dan dukungan belanja pemerintah masih memberikan stimulus signifikan. Namun, ia memperingatkan bahwa ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, dapat menambah tekanan pada harga minyak dan memperlebar defisit APBN sekitar Rp 6,8 triliun per kenaikan USD 1 pada harga minyak mentah.
Ia juga menyoroti peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk kebijakan suku bunga acuan dan intervensi di pasar valuta asing. Basri menekankan pentingnya menjaga cadangan devisa agar tidak turun drastis, serta mengatur eksposur FX bagi pelaku pasar secara mikro‑prudensial.
Secara keseluruhan, Basri menganggap bahwa tantangan terbesar bukan hanya teknis ekonomi, melainkan politik ekonomi. Implementasi kebijakan fiskal yang rasional membutuhkan dukungan politik yang kuat, terutama dalam hal pemotongan belanja yang sensitif.
Dengan latar belakang pengalaman krisis, pertemuan di Istana ini dapat menjadi sinyal bahwa Presiden Prabowo menguji opsi kebijakan baru, baik melalui penunjukan kembali tokoh berpengalaman atau melalui koordinasi intensif antara DEN dan Kementerian Keuangan. Apapun keputusan yang diambil, langkah selanjutnya akan sangat memengaruhi arah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada paruh kedua 2026.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet