Budiman Sudjatmiko Lari Lewat Pintu Belakang, Nusron‑Sudaryono Dievakuasi Polisi Saat Dikepung Mahasiswa UGM
Budiman Sudjatmiko Lari Lewat Pintu Belakang, Nusron‑Sudaryono Dievakuasi Polisi Saat Dikepung Mahasiswa UGM

Budiman Sudjatmiko Lari Lewat Pintu Belakang, Nusron‑Sudaryono Dievakuasi Polisi Saat Dikepung Mahasiswa UGM

LintasWarganet.com – 16 Juni 2026 | Ruang diskusi Pancasila di Universitas Gadjah Mada (UGM) berubah menjadi arena konfrontasi pada akhir pekan lalu ketika sekelompok mahasiswa menuntut klarifikasi atas kebijakan politik yang dianggap mengancam kebebasan akademik. Dalam situasi yang memanas, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Budiman Sudjatmiko terpaksa melarikan diri lewat pintu belakang gedung, sementara dua tokoh senior, Nusron dan Sudaryono, harus dievakuasi oleh aparat kepolisian.

Mahasiswa menggelar aksi di depan gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, menuntut penjelasan atas pernyataan kontroversial yang baru-baru ini muncul di media sosial. Mereka menuduh bahwa Budiman dan rekan-rekannya berusaha membatasi kebebasan bersuara di lingkungan kampus. Demonstrasi yang awalnya bersifat damai beralih menjadi kerusuhan setelah beberapa mahasiswa membentak pembicara dan melemparkan benda-benda ringan.

  • 08:15 WIB – Mahasiswa memasuki area diskusi, menuntut dialog terbuka.
  • 08:45 WIB – Protes berubah menjadi kerusuhan, suara teriakan dan teriakan menambah ketegangan.
  • 09:10 WIB – Budiman Sudjatmiko mencari jalan keluar melalui pintu belakang untuk menghindari bentrokan.
  • 09:20 WIB – Nusron dan Sudaryono dipaksa diturunkan ke mobil polisi dan dievakuasi ke lokasi aman.

Pihak kampus kemudian menutup sementara ruangan diskusi dan mengumumkan peninjauan ulang prosedur keamanan dalam acara akademik. Rektor UGM menyatakan komitmen untuk melindungi kebebasan akademik sekaligus memastikan keamanan semua pihak.

Reaksi politikus lain menyoroti pentingnya dialog terbuka antara mahasiswa dan pejabat publik. Beberapa anggota DPR menilai aksi mahasiswa sebagai bentuk pengawasan demokratis, sementara yang lain mengingatkan agar tidak melanggar aturan ketertiban umum.

Kejadian ini menimbulkan perdebatan lebih luas mengenai peran pejabat publik dalam ruang akademik serta batasan kebebasan berpendapat di lingkungan kampus. Pengamat politik memperkirakan bahwa insiden ini dapat memicu revisi kebijakan keamanan pada acara serupa di masa depan.