Bojan Hodak puji Frans Putros, Irak Raih Tiket Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Bolivia
Bojan Hodak puji Frans Putros, Irak Raih Tiket Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Bolivia

Bojan Hodak puji Frans Putros, Irak Raih Tiket Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Bolivia

LintasWarganet.com – 11 April 2026 | Jakarta, 10 April 2026 – Pelatih sepak bola asal Kroasia, Bojan Hodak, memberikan pujian khusus kepada bek Persib Bandung, Frans Putros, setelah tim nasional Irak menjuarai laga hidup‑mati melawan Bolivia dalam play‑off antar konfederasi. Kemenangan 2‑1 yang diraih Irak di Meksiko memastikan mereka kembali ke Piala Dunia 2026, pertama kalinya sejak 1986.

Menurut Bojan Hodak, performa Putros menjadi salah satu faktor kunci dalam pertahanan Irak yang solid. “Frans menunjukkan kualitas bek modern, dengan kecepatan, ketangguhan dalam duel udara, dan kepemimpinan yang luar biasa di lini belakang. Ia tidak hanya membantu menutup ruang bagi penyerang Bolivia, tapi juga memberi kontribusi dalam transisi menyerang,” ujar Hodak dalam konferensi pers sesaat setelah pertandingan.

Laga Penentu di Meksiko

Pertandingan berlangsung di Stadion Azteca, dengan suhu tinggi dan atmosfer menegangkan. Irak membuka keunggulan lewat gol cepat pada menit ke‑12 melalui penyerang senior mereka, Ali Hussein. Bolivia membalas pada menit ke‑35 lewat gol kepala, namun Irak kembali memimpin lewat gol kedua pada menit ke‑78 setelah serangan balik yang dimotori oleh Putros yang mengirimkan umpan panjang ke depan.

Frans Putros, yang berusia 32 tahun dan membela Persib Bandung di Liga 1, mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari sejarah baru Irak. “Ya, tentu sangat bangga. Sudah 40 tahun kami tidak lolos. Ini momen besar bagi saya, tim, dan seluruh rakyat Irak,” katanya. Putros menambahkan bahwa dukungan suporter Persib, yang dikenal dengan sebutan Bobotoh, sangat menginspirasi. “Saya sangat berterima kasih kepada Bobotoh. Dukungan mereka luar biasa dan membuat saya semakin termotivasi,” ujarnya.

Sejarah Panjang Irak di Piala Dunia

Era keemasan terakhir Irak di panggung dunia terjadi pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, dimana tim tersebut mengakhiri perjalanan di fase grup. Kembali ke Meksiko setelah empat dekade menjadi simbol kebangkitan sepak bola Irak. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras pelatih Graham Arnold yang berhasil mengoptimalkan taktik defensif serta mengintegrasikan pemain diaspora, termasuk Putros, yang memiliki latar belakang Irak sekaligus kebangsaan Indonesia.

Setelah lolos, Irak akan bergabung di Grup I bersama Timnas Prancis, Norwegia, dan Senegal. Meskipun grup tersebut diprediksi sangat kompetitif, Bojan Hodak menilai Irak memiliki potensi untuk mengganggu raksasa Eropa. “Dengan disiplin taktis dan mental juara yang sudah terbentuk, Irak dapat menimbulkan kejutan, terutama lewat pertahanan yang dipimpin oleh pemain berpengalaman seperti Frans,” kata Hodak.

Dukungan Bobotoh dan Harapan Putros

Bobotoh, komunitas suporter Persib, mengirimkan ribuan pesan dukungan kepada Putros selama periode play‑off. Banyak di antara mereka menyoroti kebanggaan memiliki pemain lokal yang berperan penting dalam ajang internasional. “Kita bangga, Putros! Terus bawa nama Indonesia di panggung dunia,” tulis salah satu grup media sosial Bobotoh.

Putros menegaskan tekadnya untuk tetap berkontribusi pada Timnas Irak dan Persib Bandung. “Saya ingin memaksimalkan peluang yang ada, baik di level internasional maupun di Liga 1. Bermain di Piala Dunia adalah impian setiap pesepakbola, dan saya tidak ingin melewatkannya,” ujar dia.

Keberhasilan Irak dan pujian Bojan Hodak terhadap Putros menjadi bukti sinergi antara bakat diaspora, dukungan suporter, dan kebijakan teknis yang tepat. Jika Irak dapat mempertahankan performa ini di Piala Dunia, mereka tidak hanya menulis kembali sejarah, tetapi juga memperkuat posisi sepak bola Asia Barat di kancah global.

Dengan grup yang menantang, tantangan selanjutnya akan menguji ketangguhan tim. Namun, semangat yang ditunjukkan oleh Frans Putros dan dukungan tak tergoyahkan dari Bobotoh memberi harapan baru bagi kedua bangsa—Irak dan Indonesia—untuk menyaksikan perjalanan menegangkan menuju panggung sepak bola paling bergengsi di dunia.