BI: Pelemahan kurs rupiah sejalan dengan mayoritas “emerging market”

LintasWarganet.com – 05 Mei 2026 | Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa penurunan nilai tukar rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah pada bulan Oktober 2023 hingga kini merupakan bagian dari dinamika yang lebih luas di pasar negara‑negara berkembang. Menurut data internal BI, rupiah melemah sekitar 5,2% terhadap dolar Amerika Serikat, dengan tren penurunan yang hampir selaras dengan mata uang utama di kawasan emerging market.

Faktor utama yang memicu pelemahan tersebut meliputi ketegangan geopolitik yang meningkatkan sentimen risiko, kebijakan moneter Federal Reserve yang tetap ketat, serta fluktuasi harga komoditas, terutama minyak mentah. Dampak langsungnya adalah peningkatan biaya impor dan tekanan inflasi yang masih berada di atas target bank sentral.

BI menegaskan bahwa kebijakan moneter domestik tetap berfokus pada stabilitas nilai tukar dan pengendalian inflasi. Bank sentral telah melakukan intervensi di pasar valuta asing secara selektif, memperkuat cadangan devisa, serta memperketat suku bunga acuan untuk menahan aliran modal keluar.

Berikut adalah perbandingan persentase perubahan nilai tukar beberapa mata uang emerging market utama terhadap dolar AS sejak Oktober 2023:

Mata Uang Perubahan (%)
Rupiah (IDR) -5,2
Baht Thailand (THB) -4,8
Peso Meksiko (MXN) -5,5
Lira Turki (TRY) -6,1

Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah berada dalam kisaran yang serupa dengan mata uang lainnya, menegaskan bahwa tekanan eksternal bersifat global, bukan semata‑mata disebabkan oleh faktor domestik.

Untuk menanggapi situasi ini, BI berencana memperkuat komunikasi kebijakan, meningkatkan transparansi operasi pasar uang, serta terus memantau perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi aliran modal. Dengan strategi tersebut, bank sentral berharap dapat menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka menengah sambil menurunkan tekanan inflasi.