BEM Seluruh Indonesia Gandeng Ratusan Mahasiswa, Tantang Pemerintah Selama 18 Hari untuk Perbaiki Ekonomi
BEM Seluruh Indonesia Gandeng Ratusan Mahasiswa, Tantang Pemerintah Selama 18 Hari untuk Perbaiki Ekonomi

BEM Seluruh Indonesia Gandeng Ratusan Mahasiswa, Tantang Pemerintah Selama 18 Hari untuk Perbaiki Ekonomi

LintasWarganet.com – 11 Juni 2026 | Jumat, 12 Juni 2026, kawasan Patung Kuda di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, menjadi saksi aksi massal Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI). Lebih dari seratus organisasi mahasiswa dari seluruh pelosok negeri berkumpul, menuntut pemerintah menyelesaikan krisis nilai tukar rupiah dalam waktu 18 hari. Demonstrasi yang dimulai pukul 10.00 WIB ini menandai puncak konsolidasi yang telah direncanakan sejak awal bulan, dengan aliansi meliputi BEM UI, BEM KM IPB, BEM PNJ, BEM Universitas Pancasila, aliansi BEM Gunadarma, Forum Mahasiswa Nasional (FMN) Pusat, FMN UI, serta kelompok Pembebasan dan Semar UI.

Lima Tuntutan Mahasiswa

Dalam pidato singkat sebelum aksi, Ketua BEM UI, Anandaku Dimas Rumi, menegaskan lima tuntutan utama yang menjadi landasan gerakan ini:

  • Penghentian pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dianggap tidak efisien.
  • Peningkatan transparansi kebijakan moneter dan fiskal, termasuk audit atas keputusan yang memengaruhi nilai tukar.
  • Pembentukan tim khusus lintas kementerian untuk menstabilkan rupiah dalam jangka pendek.
  • Peningkatan upah minimum dan program kesejahteraan bagi pekerja informal yang paling terdampak inflasi.
  • Pengawasan independen terhadap lembaga keuangan, termasuk Bank Indonesia, untuk mencegah spekulasi berlebihan.

Mahasiswa menegaskan bahwa setiap poin akan dievaluasi secara berkala, dan jika tidak ada progres signifikan dalam 18 hari, mereka akan melanjutkan aksi dengan judul “Reformasi Jilid II”.

Reaksi Pemerintah dan Aparatur Keamanan

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyampaikan respon resmi pada Senin, 8 Juni 2026. Ia menyatakan pemerintah menerima aspirasi mahasiswa sebagai masukan konstruktif dan menegaskan komitmen untuk terus bekerja keras mengatasi permasalahan ekonomi. “Kami tidak dapat menjanjikan solusi dalam tenggat waktu tertentu, namun semangat para mahasiswa menjadi dorongan bagi kami untuk mempercepat langkah-langkah kebijakan,” ujar Prasetyo.

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Herindra, menekankan pentingnya persatuan dan keamanan nasional. “Kita semua harus menjaga persatuan, hindari provokasi yang dapat merusak stabilitas,” tegasnya dalam pernyataan di Gedung DPR pada Kamis, 11 Juni 2026.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga memberikan himbauan kepada seluruh peserta aksi untuk tetap tertib. “Polri akan memastikan setiap kegiatan penyampaian aspirasi berjalan dalam kondisi kondusif, tanpa mengganggu ketertiban umum,” ujarnya di Mabes Polri.

Dimensi Ekonomi di Balik Tuntutan

Data terbaru menunjukkan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 2,4 % terhadap dolar AS dalam tiga bulan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha dan konsumen. Inflasi pangan kini berada di atas 5 %, sementara nilai tukar yang lemah menambah beban impor bahan baku. Mahasiswa menyoroti bahwa kebijakan fiskal yang tidak terarah memperparah situasi, sehingga menuntut transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi.

Tim riset ekonomi independen memperkirakan bahwa bila tidak ada intervensi kebijakan yang signifikan dalam 18 hari, depresiasi dapat mencapai 3 % tambahan, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi hingga 6,5 % pada kuartal berikutnya. Oleh karena itu, tuntutan mahasiswa tidak hanya bersifat simbolis, melainkan didasarkan pada analisis risiko makroekonomi yang mendalam.

Prospek dan Langkah Selanjutnya

Sejumlah organisasi mahasiswa mengaku masih dalam proses konsolidasi untuk memastikan kehadiran massa yang maksimal pada aksi. Mereka menyiapkan rapat koordinasi malam sebelum aksi untuk memastikan estimasi kehadiran dan menyusun strategi komunikasi dengan media serta publik.

Jika pemerintah dapat menunjukkan progres nyata—seperti kebijakan penstabilan nilai tukar, peningkatan alokasi anggaran untuk program kesejahteraan, atau pembentukan tim lintas kementerian—maka potensi eskalasi aksi dapat diminimalisir. Namun, jika tenggat waktu 18 hari berlalu tanpa langkah konkrit, BEM SI berjanji akan melanjutkan demonstrasi dengan skala yang lebih luas, mengacu pada slogan “Rupiah Sekarat, Rakyat Melarat”.

Dengan tekanan politik, ekonomi, dan sosial yang saling berinteraksi, aksi BEM SI menjadi indikator penting bagi dinamika kebijakan publik Indonesia. Keseimbangan antara respons pemerintah yang responsif dan tuntutan mahasiswa yang terstruktur akan menentukan arah kebijakan ekonomi negara dalam beberapa minggu mendatang.

Ke depan, semua mata akan tertuju pada keputusan pemerintah dalam menyikapi ultimatum 18 hari. Baik kalangan akademisi, pelaku usaha, maupun masyarakat luas menantikan langkah konkret yang dapat menstabilkan nilai tukar rupiah sekaligus menurunkan beban hidup rakyat.