Bahlil Akui Pernah Hadapi Krisis LPG Akibat Perang Iran, Cadangan Kini Aman
Bahlil Akui Pernah Hadapi Krisis LPG Akibat Perang Iran, Cadangan Kini Aman

Bahlil Akui Pernah Hadapi Krisis LPG Akibat Perang Iran, Cadangan Kini Aman

LintasWarganet.com – 08 April 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Timur, baru-baru ini mengungkapkan bahwa Indonesia pernah mengalami tekanan pasokan LPG pada masa puncak ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, konflik tersebut mengganggu aliran LPG dari negara–negara produsen utama, memicu kekhawatiran akan kelangkaan di pasar domestik.

Indonesia, yang mengandalkan impor LPG sekitar 70 % dari total kebutuhan, merasakan dampak langsung ketika kapal–kapal tanker mengalami penundaan atau pembatalan pengiriman. Pada saat itu, harga eceran LPG sempat naik dan pasokan ke wilayah–wilayah terpencil menjadi terancam.

Langkah Pemerintah Mengatasi Krisis

  • Penguatan cadangan strategis LPG melalui peningkatan volume penyimpanan di terminal–terminal utama.
  • Diversifikasi sumber impor dengan menambah kontrak dari negara–negara selain Iran, seperti Arab Saudi, Qatar, dan negara–negara Afrika.
  • Penambahan kapasitas produksi domestik melalui peluncuran proyek–proyek LPG berbasis gas alam di wilayah–wilayah baru.
  • Koordinasi intensif dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BP2M) untuk mengatur distribusi secara adil.
  • Penerapan kebijakan penetapan harga sementara untuk menahan lonjakan tarif konsumen.

Setelah serangkaian tindakan tersebut, Bahlil menyatakan bahwa stok LPG kini berada pada level yang aman. Cadangan strategis telah mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan ke depan, sehingga risiko kekurangan dapat dianggap teratasi.

Ia menegaskan, “Krisis LPG yang sempat terjadi akibat perang Iran sudah lewat. Fokus kami kini adalah menjaga stabilitas pasokan dan harga, serta memperkuat ketahanan energi nasional.” Pernyataan ini disampaikan dalam rapat koordinasi internal Kementerian ESDM serta dalam wawancara dengan media.

Para pengamat pasar energi menilai bahwa kebijakan diversifikasi sumber dan peningkatan cadangan strategis merupakan langkah tepat untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah geopolitik. Mereka menambahkan bahwa meski situasi geopolitik global tetap tidak menentu, Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat untuk mengantisipasi gangguan pasokan di masa depan.

Ke depan, pemerintah berencana terus memantau pasar internasional, memperluas kerja sama bilateral, serta mempercepat program pengembangan infrastruktur LPG di daerah–daerah terpencil agar pasokan tetap merata.