LintasWarganet.com – 20 Juni 2026 | Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah, tidak hanya menandai permulaan tahun baru Islam, tetapi juga menyertakan dua puasa yang lazim dipraktikkan umat Muslim, yaitu puasa Tasua pada tanggal 9 dan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Kedua puasa ini memiliki latar belakang sejarah yang kompleks dan sering menjadi perbincangan mengenai kemungkinan asal‑usulnya yang bersinggungan dengan tradisi Yahudi.
Berbagai riwayat menjelaskan bahwa puasa Asyura pada awalnya merupakan bentuk rasa syukur atas pembebasan Bani Israel dari penindasan Firaun. Dalam kitab Taurat, hari ke‑10 bulan Nisan diperingati sebagai “Yom Ha‑Shoah” (Hari Penebusan), yang kemudian diadopsi sebagai hari puasa oleh komunitas Yahudi. Ketika Islam mulai berkembang, Nabi Muhammad SAW menerima tradisi ini dan menyesuaikannya dengan kalender Islam, menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai hari puasa yang dianjurkan.
Berikut beberapa poin utama yang sering dikemukakan oleh para sejarawan dan ulama:
- Pengaruh Yahudi: Sejumlah sumber klasik mencatat bahwa puasa Asyura awalnya diambil dari praktik Yahudi, khususnya peringatan pembebasan Bani Israel.
- Pergeseran makna: Setelah peristiwa tragedi Karbala pada tahun 680 M, umat Muslim menambahkan dimensi duka dan penyerahan diri kepada Allah, menjadikan Asyura tidak hanya sebagai hari syukur, tetapi juga sebagai hari berzikir atas pengorbanan Imam Husain.
- Puasa Tasua: Puasa pada tanggal 9 Muharram (Tasua) muncul sebagai persiapan spiritual menjelang Asyura, menekankan penyesalan dan introspeksi diri.
- Penolakan atau adaptasi? Beberapa ulama menegaskan bahwa meskipun unsur historisnya bersinggungan dengan tradisi Yahudi, Islam memberikan makna baru yang independen, sehingga puasa tersebut tidak dapat dianggap sekadar peniruan.
Dalam perspektif keilmuan, ada dua aliran utama. Sekolah pertama berpendapat bahwa Islam memang menyerap unsur‑unsur budaya pra‑Islam, termasuk praktik puasa tertentu, namun mengubah tujuan dan konteksnya. Sekolah kedua menekankan bahwa puasa Asyura dan Tasua memiliki akar internal dalam tradisi Arab pra‑Islam, seperti puasa pada hari‑hari tertentu untuk menandai peristiwa penting.
Terlepas dari perdebatan historis, kedua puasa tersebut kini menjadi bagian integral dari praktik keagamaan umat Muslim di seluruh dunia. Mereka dijalankan tidak hanya sebagai tindakan fisik menahan makan, melainkan sebagai sarana refleksi spiritual, pengingat akan sejarah, serta kesempatan untuk memperkuat ikatan sosial melalui doa bersama.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet