LintasWarganet.com – 02 Mei 2026 | Washington mengumumkan pada hari Senin bahwa Departemen Keuangan AS telah menambahkan sembilan entitas China ke dalam daftar sanksi terkait dugaan keterlibatan mereka dalam perdagangan minyak Iran yang melanggar sanksi internasional. Penetapan sanksi ini mencakup dua terminal minyak utama, tiga perusahaan logistik, serta empat perusahaan layanan keuangan yang diduga memfasilitasi pembayaran dan transportasi minyak asal Iran.
Langkah tersebut diambil menjelang KTT bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Pemerintah AS menegaskan bahwa sanksi tersebut bertujuan menutup celah yang memungkinkan Iran mengalirkan pendapatan dari minyak melalui jaringan perusahaan China, sekaligus mengirim sinyal kuat kepada Beijing untuk tidak menjadi perantara bagi sanksi tersebut.
Beijing dengan cepat menanggapi melalui Kementerian Luar Negeri, menyatakan bahwa tindakan Washington merupakan bentuk “intimidasi” dan melanggar prinsip non-intervensi. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menambahkan bahwa China tidak akan menerima tekanan eksternal yang mengancam kedaulatan dan kepentingan nasionalnya.
Saat ini, daftar sanksi mencakup:
- Terminal Minyak Tianjin (Terminal 1)
- Terminal Minyak Shanghai (Terminal 2)
- Logistik Asia Pacific Co.
- East China Shipping Ltd.
- China Oil Finance Group
- Beijing Energy Services
- Northwest Petroleum Trading
- Southern Petrochemicals
- Global Trade Solutions
Berikut tabel ringkas yang menampilkan jenis entitas dan alasan sanksi:
| Entitas | Jenis | Alasan Sanksi |
|---|---|---|
| Terminal Minyak Tianjin | Terminal Minyak | Fasilitasi ekspor minyak Iran |
| Logistik Asia Pacific Co. | Perusahaan Logistik | Pengiriman tanker berisi minyak Iran |
| China Oil Finance Group | Layanan Keuangan | Transaksi pembayaran untuk minyak Iran |
Para pengamat memperkirakan bahwa sanksi ini dapat menambah ketegangan dalam negosiasi perdagangan dan energi antara kedua negara. Di satu sisi, Washington berharap tekanan ekonomi dapat memaksa China untuk menegakkan kebijakan anti-sanksi Iran secara lebih ketat. Di sisi lain, Beijing menilai langkah tersebut dapat merusak iklim diplomatik yang seharusnya kondusif menjelang pertemuan puncak.
Meski demikian, kedua pemimpin tampaknya masih berkomitmen untuk melanjutkan KTT. Pihak Sekretariat Gedung Putih mengindikasikan bahwa agenda KTT akan tetap mencakup isu-isu perdagangan, keamanan regional, serta kerja sama dalam penanggulangan perubahan iklim, namun dengan catatan bahwa pelanggaran sanksi akan menjadi topik yang “serius” untuk dibahas.
Jika sanksi tersebut diberlakukan secara penuh, pasar minyak global dapat merasakan tekanan naik akibat potensi gangguan rantai pasokan. Analisis pasar menunjukkan kemungkinan kenaikan harga Brent sebesar 1-2% dalam beberapa minggu ke depan, meski dampak jangka panjang masih bergantung pada respons China terhadap tekanan Washington.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet