Arab Saudi dan UEA Terlihat Akur, Tapi Sebenarnya Tak Begitu Akur
Arab Saudi dan UEA Terlihat Akur, Tapi Sebenarnya Tak Begitu Akur

Arab Saudi dan UEA Terlihat Akur, Tapi Sebenarnya Tak Begitu Akur

LintasWarganet.com – 29 Mei 2026 | Penampilan diplomatik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) belakangan ini tampak bersahabat, namun di balik layar terdapat sejumlah perbedaan mendasar yang memengaruhi kebijakan energi regional.

Pada 1​Mei, UEA resmi mengumumkan keputusan keluar dari OPEC setelah menjadi anggota sejak 2016. Langkah ini diambil di tengah ketegangan mengenai target produksi minyak dan strategi harga yang berbeda dengan Riyadh.

  • Kebijakan produksi: Saudi menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasar dengan menyesuaikan kuota secara berkala, sementara UEA lebih memilih fleksibilitas untuk menyesuaikan produksi sesuai kebutuhan fiskal domestik.
  • Strategi harga: Riyadh cenderung mendukung harga minyak yang lebih tinggi untuk mengoptimalkan pendapatan negara, sedangkan UEA mengutamakan kebijakan harga yang kompetitif guna menarik investasi di sektor non‑migas.
  • Pengaruh regional: Kedua negara bersaing dalam proyek‑proyek infrastruktur dan energi alternatif, termasuk inisiatif tenaga surya dan hidrogen hijau, yang kadang menimbulkan persaingan alih-alih kolaborasi.

Meski sering terlihat berkoordinasi dalam pertemuan G20 atau Forum Kerja Sama Teluk, perbedaan strategi ini mengakibatkan ketegangan yang jarang dipublikasikan. Misalnya, dalam rapat OPEC+ terakhir, UEA menolak beberapa usulan penyesuaian produksi yang diajukan Saudi, mengindikasikan bahwa keputusan keluar bukan sekadar langkah administratif.

Selain faktor ekonomi, ada pula dimensi politik. Saudara‑saudara kerajaan Saudi menilai keberpihakan UEA terhadap beberapa kebijakan luar negeri yang berbeda, termasuk sikap terhadap Iran dan kebijakan energi terbarukan yang didorong oleh Abu Dhabi.

Berbagai analis memandang bahwa hubungan kedua negara akan tetap bersifat pragmatis: kerja sama akan terus berlanjut pada bidang pertahanan dan keamanan, namun persaingan di sektor energi kemungkinan akan berlanjut hingga ada konsensus baru tentang produksi dan harga global.

Keputusan UEA keluar dari OPEC menandai titik balik yang dapat memicu penataan ulang aliansi energi di Timur Tengah, sekaligus membuka ruang bagi negara‑negara lain untuk memperkuat posisi tawar mereka dalam negosiasi OPEC+.