LintasWarganet.com – 17 April 2026 | Seorang anggota parlemen Belgia, Yvan Verougstraete, pada Kamis menuntut Uni Eropa untuk menangguhkan perjanjian kemitraan dengan Israel hingga situasi di Gaza membaik. Ia menilai bahwa persetujuan perjanjian tersebut tidak dapat dipertahankan selagi Israel terus melanjutkan operasi militer yang menimbulkan korban sipil.
Verougstraete mengingatkan bahwa Uni Eropa telah menandatangani Perjanjian Asosiasi dengan Israel pada 2022, yang mencakup kerja sama ekonomi, ilmu pengetahuan, dan hak asasi manusia. Namun, menurutnya, pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Gaza membuat perjanjian itu kehilangan legitimasi moral.
Dalam pernyataannya, ia mengajukan beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum perjanjian dapat dilanjutkan kembali:
- Penghentian total operasi militer Israel di Jalur Gaza.
- Penegakan penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
- Penyediaan bantuan kemanusiaan yang tidak terhalang kepada penduduk Gaza.
- Komitmen Israel untuk menghormati hukum humaniter internasional.
Seruan Verougstraete mendapat dukungan dari sejumlah kelompok hak asasi manusia di Eropa, namun juga menuai kritik dari kalangan yang menilai langkah tersebut dapat merusak hubungan ekonomi dan diplomatik antara Uni Eropa dan Israel.
Komisi Eropa belum memberikan respons resmi terhadap desakan tersebut. Namun, beberapa pejabat EU menyatakan bahwa situasi di Gaza akan menjadi faktor penting dalam peninjauan kembali perjanjian kemitraan.
Jika EU memutuskan untuk menangguhkan perjanjian, konsekuensinya dapat meliputi penundaan proyek energi terbarukan, pembatasan akses pasar bagi perusahaan Israel, serta penurunan investasi bilateral. Di sisi lain, keputusan itu dapat memperkuat posisi Uni Eropa sebagai penjaga nilai-nilai hak asasi manusia di panggung internasional.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet