LintasWarganet.com – 10 Juni 2026 | Pengeluaran dunia untuk program senjata nuklir mencapai rekor tertinggi pada tahun lalu, yakni sekitar US$119 miliar. Angka ini mencerminkan intensifikasi kompetisi militer di antara negara‑negara yang memiliki atau sedang mengembangkan persenjataan nuklir. Saat ini ada sembilan negara yang secara resmi atau diperkirakan memiliki arsenal nuklir, dengan total lebih dari 12.000 hulu ledak.
Berikut ini adalah rangkuman negara‑negara tersebut beserta perkiraan anggaran tahunan yang dialokasikan untuk pengembangan, pemeliharaan, dan modernisasi senjata nuklir mereka.
| Negara | Perkiraan Anggaran Nuklir (USD Miliar) | Perkiraan Jumlah Hujan Ledak |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | 80 | 5.800 |
| Rusia | 30 | 6.200 |
| China | 12 | 350 |
| Prancis | 3 | 300 |
| Inggris | 2 | 215 |
| India | 2 | 160 |
| Pakistan | 1.5 | 165 |
| Israel | 1 | 90 |
| Korea Utara | 0.5 | 40 |
Anggaran terbesar jelas berada di tangan Amerika Serikat, yang mengalokasikan lebih dari dua pertiga total belanja nuklir global. Rusia menempati posisi kedua, meski persentasenya jauh lebih kecil dibandingkan AS. China, meskipun memiliki jumlah hulu ledak yang jauh lebih sedikit, terus meningkatkan investasi untuk memperluas kemampuan nuklirnya.
Negara‑negara Eropa seperti Prancis dan Inggris mempertahankan program nuklir yang lebih terbatas, dengan fokus pada modernisasi sistem yang sudah ada. Di Asia, India dan Pakistan terus bersaing dalam pengembangan senjata nuklir mereka, sementara Israel tetap mempertahankan kebijakan ambiguitas namun diperkirakan mengalokasikan dana signifikan untuk program tersebut. Korea Utara, meski memiliki anggaran paling kecil, tetap menjadi faktor ketidakstabilan regional karena program pengembangan yang terus berlanjut.
Besarnya anggaran ini menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan perlombaan senjata nuklir serta dampaknya terhadap keamanan internasional. Peningkatan belanja dapat mendorong perlombaan modernisasi, namun juga menambah beban keuangan negara‑negara yang harus menyeimbangkan antara keamanan nasional dan kebutuhan pembangunan sosial‑ekonomi.
Pengamat menyarankan perlunya dialog multilateral yang lebih intensif untuk mengendalikan eskalasi anggaran dan memperkuat mekanisme kontrol senjata. Tanpa upaya bersama, tren peningkatan pengeluaran ini dapat memperkuat ketegangan geopolitik dan memperbesar risiko penggunaan senjata nuklir di masa depan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet