LintasWarganet.com – 16 Mei 2026 | Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, tiga pakar pertahanan mengungkap bahwa kekuatan militer Amerika Serikat (AS) kini berada pada posisi yang lebih rentan ketika dihadapkan pada kebijakan dan strategi Presiden Tiongkok, Xi Jinping. Analisis mereka menyoroti perubahan struktural dalam aliansi, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), serta tekanan ekonomi yang menguji kesiapan militer AS.
Analisis pertama: Kelebihan Operasional dan Logistik
Dr. Ahmad Fadli, dosen ilmu keamanan, menilai bahwa AS terlalu tersebar dalam berbagai kawasan konflik, mulai dari Timur Tengah hingga Indo-Pasifik. Penempatan pasukan yang luas mengakibatkan beban logistik yang tinggi, sehingga memperlambat respons terhadap ancaman terkoordinasi yang dapat dikeluarkan oleh Tiongkok. Menurutnya, ketergantungan pada jaringan suplai yang panjang menjadi titik lemah yang dapat dieksploitasi.
Analisis kedua: Kemajuan A2/AD China
Prof. Siti Nurhaliza, pakar strategi militer, menekankan bahwa Tiongkok telah mengembangkan sistem anti‑akses/area‑denial (A2/AD) yang semakin canggih di sekitar Taiwan dan Laut China Selatan. Dengan menempatkan misil jelajah berkecepatan hipersonik, sistem pertahanan udara berintegrasi, serta kapal selam kelas terbaru, Beijing menciptakan zona yang sulit dimasuki oleh armada AS. Hal ini menurunkan efektivitas kehadiran militer AS di wilayah strategis tersebut.
Analisis ketiga: Tekanan Ekonomi dan Persaingan AI
Budi Santoso, analis kebijakan pertahanan, mengingatkan bahwa anggaran pertahanan AS sedang menghadapi tekanan fiskal domestik, sementara China meningkatkan investasi pada AI militer. Penggunaan AI untuk analisis intelijen, keputusan taktis, dan sistem senjata otonom memberikan keunggulan operasional yang dapat menutup kesenjangan tradisional. Santoso berpendapat bahwa ketergantungan AS pada teknologi Barat yang masih dalam tahap pengembangan menambah kerentanan strategis.
Poin utama yang diidentifikasi oleh ketiga analis:
- Kelebihan beban operasional dan logistik AS di banyak zona konflik.
- Penguatan jaringan A2/AD China yang menghambat akses militer AS.
- Persaingan teknologi AI yang menempatkan AS pada posisi mengejar ketertinggalan.
- Tekanan anggaran domestik yang membatasi kemampuan modernisasi cepat.
Implikasinya, menurut para pakar, adalah perlunya Amerika Serikat meninjau kembali strategi aliansi, memperkuat kemampuan pertahanan terintegrasi di kawasan Indo‑Pasifik, serta meningkatkan kolaborasi teknologi dengan sekutu untuk menutup kesenjangan AI. Tanpa penyesuaian tersebut, posisi militer AS dapat semakin tertekan di hadapan kebijakan agresif Xi Jinping.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet