LintasWarganet.com – 26 April 2026 | Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengingatkan negara‑negara yang berperilaku arogan untuk menelusuri kembali catatan sejarah militer, khususnya dua insiden di mana Amerika Serikat mengalami kekalahan telak di wilayah Iran.
Kekalahan pertama terjadi pada tahun 1978 di Tabas, sebuah kota di provinsi Khorasan Timur, ketika pasukan AS yang terlibat dalam operasi penyelamatan sandera mengalami serangan yang mengakibatkan kerugian signifikan. Dua puluh lima tahun kemudian, pada tahun 2024, AS kembali mengalami kegagalan serupa di Isfahan, sebuah kota besar di tengah Iran, di mana intervensi militer yang direncanakan tidak berjalan sesuai harapan.
- Kekejaman kebijakan luar negeri tanpa pertimbangan lokal – Intervensi yang mengabaikan dinamika politik dan budaya setempat berisiko menimbulkan perlawanan keras, bahkan mengakibatkan kegagalan operasi militer.
- Pentingnya menghormati kedaulatan dan menghindari kesombongan strategis – Menganggap diri tak terkalahkan dapat menimbulkan keputusan berisiko yang berujung pada kerugian material dan reputasi.
Berikut perbandingan singkat antara kedua peristiwa:
| Aspek | Tabas (1978) | Isfahan (2024) |
|---|---|---|
| Lokasi | Tabas, Khorasan Timur | Isfahan, Provinsi Isfahan |
| Tahun | 1978 | 2024 |
| Tujuan Operasi | Rescue sandera dan mengekang pengaruh Soviet | Intervensi strategis terhadap instalasi militer Iran |
| Hasil | Kekalahan dengan kerugian personel dan peralatan | Kegagalan operasional, peningkatan anti‑AS di wilayah |
Pezeshkian menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa pelajaran ini harus menjadi peringatan bagi semua kekuatan besar, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet