Kupatan Meriahkan Jepara, Sidoarjo, dan Blitar: Wisata, Kuliner, serta Kebersamaan di Seluruh Jawa
Kupatan Meriahkan Jepara, Sidoarjo, dan Blitar: Wisata, Kuliner, serta Kebersamaan di Seluruh Jawa

Kupatan Meriahkan Jepara, Sidoarjo, dan Blitar: Wisata, Kuliner, serta Kebersamaan di Seluruh Jawa

LintasWarganet.com – 29 Maret 2026 | Setelah Idulfitri, tradisi Kupatan kembali digelar di berbagai daerah Jawa, memadukan unsur kebudayaan, ekonomi, dan pariwisata. Dari lereng Gunung Muria hingga pasar tradisional Sidoarjo, serta jalan desa di Blitar, antusiasme masyarakat terlihat jelas melalui keramaian wisata, lonjakan produksi tempe, hingga aksi unik warga yang menghentikan pengendara untuk bersama menikmati ketupat.

Keramaian di Wisata Kali Ndayung, Jepara

Sabtu, 28 Maret 2026, kawasan wisata Kali Ndayung di Desa Batealit, Jepara, dipadati pengunjung sejak pagi. Lebih dari tujuh jam setelah Idulfitri, ribuan wisatawan tiba dengan kendaraan roda dua, roda empat, bahkan truk terbuka untuk menampung rombongan besar. Mereka menikmati panorama alam kaki Gunung Muria, bersantai di gazebo, serta bermain air di aliran sungai meski kondisi air agak keruh karena hujan. Harga tiket masuk yang terjangkau, hanya Rp3.000 per orang, menjadi faktor pendorong kepadatan.

Pengunjung tak hanya sekadar berwisata, melainkan juga menjadikan lokasi sebagai tempat bersantap bersama keluarga. Banyak yang membawa kupat, lepet, dan lontong opor untuk dimakan di tepi sungai, menegaskan bahwa Kupatan kini menjadi momentum berwisata sekaligus berkumpul.

Lonjakan Permintaan Tempe di Sidoarjo

Di sisi lain, pasar tradisional di Porong, Sidoarjo, menyaksikan peningkatan tajam pada penjualan tempe menjelang Kupatan. Para perajin mengungkapkan bahwa penjualan tempe biasanya mencapai 60‑80 kilogram kedelai per hari pada hari biasa, namun saat Kupatan angka tersebut melonjak menjadi sekitar 150 kilogram. Salah satu perajin, Luqman, menyatakan bahwa produksi tempe basah dapat dua kali lipat selama periode Lebaran dan Kupatan.

Permintaan tinggi mempercepat siklus penjualan; tempe yang mulai dijual pukul 06.00 WIB biasanya habis pada pukul 08.00‑09.00. Meskipun harga kedelai naik dari Rp9.750 menjadi Rp10.500 per kilogram setelah Lebaran, para penjual berusaha menahan kenaikan harga tempe untuk menjaga loyalitas pelanggan.

Tradisi Unik di Blitar: Menghentikan Pengendara untuk Makan Ketupat

Di Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, tradisi Kupatan mengambil bentuk yang tak terduga. Warga setempat secara sukarela menghentikan motor dan mobil yang melintas, mengundang pengendara untuk turun dan menikmati ketupat serta lauk pendamping secara gratis. Video aksi ini menjadi viral di media sosial, menampilkan keluarga yang tiba‑tiba diundang duduk di meja panjang yang penuh dengan makanan.

Dewi Masitoh, seorang pengendara yang terhenti, menjelaskan bahwa aksi tersebut berlangsung dengan sopan; warga membantu memindahkan kendaraan dan memberi tempat duduk yang rapi. Ia menilai inisiatif tersebut sebagai bentuk kebersamaan yang memperkuat nilai gotong‑royong selama perayaan Kupatan.

Dampak Sosial‑Ekonomi dan Budaya

Ketiga fenomena di atas menggambarkan bagaimana Kupatan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, melainkan juga katalisator kegiatan ekonomi lokal. Wisata alam di Jepara menghasilkan pendapatan tambahan bagi pedagang makanan, penyedia transportasi, dan pengelola kawasan. Di Sidoarjo, industri tempe kecil‑menengah merasakan peningkatan omzet signifikan, meski harus mengatasi tekanan harga bahan baku. Sementara di Blitar, aksi sosial memperkuat ikatan komunitas, sekaligus menciptakan momen viral yang meningkatkan citra daerah.

Secara keseluruhan, tradisi Kupatan menunjukkan fleksibilitas adaptasi budaya di era modern. Masyarakat tidak hanya melestarikan nilai‑nilai leluhur, tetapi juga memanfaatkan kesempatan untuk menggerakkan sektor pariwisata, kuliner, dan perdagangan. Keberagaman cara perayaan—dari bermain air di sungai, menyiapkan tempe dalam jumlah besar, hingga mengundang pengendara lewat jalan desa—menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan tetap hidup, terlepas dari perbedaan lokasi dan latar belakang.

Ke depan, diharapkan pemerintah daerah dan pelaku usaha dapat lebih terkoordinasi untuk menyediakan fasilitas yang memadai, menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung harga bahan baku yang stabil. Dengan demikian, Kupatan dapat terus menjadi ajang perayaan yang tidak hanya mempererat hubungan keluarga, tetapi juga menstimulasi pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.