Grebeg Tahu Jombang: Kirab Gunungan Penuh Warna, Daya Penggerak Ekonomi Warga
Grebeg Tahu Jombang: Kirab Gunungan Penuh Warna, Daya Penggerak Ekonomi Warga

Grebeg Tahu Jombang: Kirab Gunungan Penuh Warna, Daya Penggerak Ekonomi Warga

LintasWarganet.com – 28 Maret 2026 | Setiap tahun, warga Jombang menyambut hari ketujuh setelah Idul Fitri dengan semarak tradisi Gregre Tahu yang telah menjadi ikon budaya sekaligus magnet ekonomi lokal. Acara yang menggabungkan kirab gunungan, penyajian tahu goreng, dan ritual berebut ini tak hanya melestarikan nilai-nilai kebersamaan, tetapi juga menciptakan peluang pendapatan bagi ribuan orang di sekitar kota.

Sejarah dan Makna Grebeg Tahu Jombang

Grebeg Tahu Jombang berakar pada tradisi lebaran ketupat yang tersebar di seluruh Jawa. Seiring berjalannya waktu, masyarakat Jombang menambahkan unsur khas berupa gunungan ketupat raksasa yang dihiasi dengan rangkaian janur, sayur, serta tumpukan tahu goreng. Menurut sesepuh desa, gunungan ini melambangkan rasa syukur atas hasil panen dan harapan akan keberkahan di tahun berikutnya. Setiap gunungan diisi dengan uang tunai, sayuran, dan tentu saja, tumpukan tahu yang siap dibagi.

Rangkaian Acara: Kirab Gunungan, Penyajian Tahu, dan Berebut

Pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB, kerumunan warga memulai prosesi dengan kirab gunungan yang dimulai dari balai desa. Empat hingga tujuh gunungan ketupat, tergantung tahun, dibawa dalam barisan yang dipandu oleh pemuda yang mengenakan blangkon serta perempuan yang mengenakan kebaya Jawa. Musik tradisional, gendang, dan seruling mengiringi langkah mereka menelusuri jalan utama selama kurang lebih 400 meter hingga tiba di alun-alun utama.

Saat gunungan tiba, serangkaian pertunjukan seni tradisional seperti tari topeng, wayang kulit mini, dan pembacaan doa bersama digelar. Setelah itu, para petugas mengumumkan masa berebut. Masyarakat—dari anak-anak hingga lansia—berdesakan mengambil potongan ketupat, sayur, serta tahu goreng yang dibungkus dalam daun pisang. Lebih dari seratus orang melaporkan memperoleh nilai uang tunai antara Rp25 ribu hingga Rp120 ribu, sementara yang lain membawa pulang makanan untuk berbagi bersama keluarga.

Dimensi Ekonomi: Lapangan Kerja, Pendapatan Pedagang, dan Wisata

Grebeg Tahu tidak hanya bersifat seremonial; ia menjadi mesin ekonomi mikro yang signifikan. Berikut beberapa dampak ekonominya:

  • Pedagang makanan: Lebih dari 150 pedagang tahu, bakso, dan jajanan tradisional menyiapkan stand khusus. Rata‑rata omset harian mereka meningkat hingga 70% dibandingkan hari biasa.
  • Pengrajin gunungan: Sekitar 30 kelompok pengrajin lokal memproduksi gunungan ketupat dari janur, bambu, dan anyaman tradisional, menciptakan lapangan kerja temporer selama persiapan.
  • Usaha transportasi: Pengemudi ojek, taksi, dan sewa kendaraan melaporkan peningkatan permintaan tiket sebesar 45% karena wisatawan luar kota yang datang menyaksikan festival.
  • Pendapatan desa: Pemerintah desa mengalokasikan sebagian uang yang terkumpul dalam gunungan untuk program pembangunan fasilitas umum, seperti perbaikan jalan dan penyediaan listrik desa.

Selain manfaat materi, Grebeg Tahu juga menarik wisatawan budaya dari provinsi lain. Data survei yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Jombang mencatat kunjungan wisatawan meningkat dari 3.000 pada 2022 menjadi lebih dari 7.500 pada 2025, meningkatkan pendapatan sektor perhotelan dan kuliner setempat.

Gubernur Jawa Timur, dalam kunjungan resmi ke Jombang, menyatakan, “Tradisi Grebeg Tahu Jombang adalah contoh nyata bagaimana budaya dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Kami mendukung pengembangan lebih lanjut, termasuk pelatihan bagi pengrajin dan pemasaran digital produk lokal.”

Para tokoh masyarakat juga menekankan pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban selama proses berebut. Setelah insiden kecil pada tahun 2024, panitia memperketat prosedur dengan menambah petugas keamanan, memberi sinyal waktu, dan menyiapkan jalur evakuasi bagi peserta yang terinjak.

Secara keseluruhan, Grebeg Tahu Jombang telah bertransformasi menjadi ajang yang mengintegrasikan nilai spiritual, kebersamaan sosial, dan dinamika ekonomi. Dengan dukungan pemerintah daerah, komunitas lokal, serta partisipasi aktif warga, tradisi ini diproyeksikan akan terus berkembang, menjadikan Jombang tidak hanya sebagai pusat kebudayaan, tetapi juga sebagai contoh sukses desa yang memanfaatkan warisan budaya untuk kesejahteraan bersama.

Ke depan, panitia berencana menambah jumlah gunungan, memperluas zona pasar, serta melibatkan pelaku usaha digital untuk mempromosikan produk-produk lokal secara online, sehingga Grebeg Tahu Jombang dapat menjangkau pasar nasional dan bahkan internasional.