Baja Impor Murah Banjiri Pasar, Pabrik Lokal Hanya Beroperasi Setengah Kapasitas
Baja Impor Murah Banjiri Pasar, Pabrik Lokal Hanya Beroperasi Setengah Kapasitas

Baja Impor Murah Banjiri Pasar, Pabrik Lokal Hanya Beroperasi Setengah Kapasitas

LintasWarganet.com – 04 Juli 2026 | Industri baja Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius akibat baja impor murah banjiri pasar, pabrik lokal hanya beroperasi setengah kapasitas. Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Herry Warganegara, mengungkapkan bahwa arus baja impor yang terus meningkat dengan harga yang sangat kompetitif telah menekan daya saing produsen lokal. Saat ini, tingkat utilisasi pabrik baja dalam negeri hanya berkisar antara 50% hingga 60%, yang menunjukkan bahwa banyak pabrik belum mampu beroperasi secara optimal.

Kondisi ini diperburuk oleh penurunan permintaan domestik dan laporan dari S&P Global yang mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada bulan Juni 2026. Penurunan PMI ini menjadi indikator bahwa aktivitas industri nasional melambat, dan hal ini berimplikasi langsung pada industri baja yang merupakan salah satu tulang punggung sektor manufaktur.

Baca juga:

Herry menjelaskan bahwa industri baja nasional menghadapi berbagai tantangan, termasuk tingginya volume impor dan biaya produksi yang meningkat akibat pasokan energi dan bahan baku yang tidak stabil. “Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena industri baja merupakan industri hulu yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor manufaktur lainnya,” ujarnya.

Meski proyek infrastruktur pemerintah dan sektor konstruksi masih memberikan harapan bagi industri baja, kenyataannya produk impor masih menguasai sebagian besar kebutuhan pasar dalam negeri. Hal ini mengurangi ruang bagi produsen lokal untuk meningkatkan utilisasi kapasitas mereka. “Akibatnya, ruang bagi produsen dalam negeri untuk meningkatkan utilisasi kapasitas masih cukup terbatas,” tambah Herry.

Baca juga:

Dalam konteks ini, Gabungan Industri Mesin dan Logam Indonesia (GAMMA) juga mendorong pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek-proyek nasional. Ketua Umum GAMMA, Dadang Asikin, menyatakan bahwa percepatan pelaksanaan proyek akan meningkatkan permintaan terhadap produk industri nasional, termasuk baja. “Dampaknya tidak hanya meningkatkan utilisasi kapasitas industri, tetapi juga menjaga penyerapan tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” sebutnya.

Namun, tantangan masih ada. Herry menegaskan bahwa perlambatan aktivitas manufaktur saat ini disebabkan oleh melemahnya permintaan dari sektor pengguna baja dan tingginya volume impor. “Tekanan ini membuat pemulihan utilisasi kapasitas produksi industri baja berlangsung lambat,” tuturnya.

Baca juga:

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa meskipun sektor besi dan baja masih menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas Indonesia, kontribusi dari sektor ini mengalami penurunan. Pada awal tahun 2026, volume ekspor besi dan baja mencapai 8,89 juta ton, turun 5,58% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa baja impor murah banjiri pasar, pabrik lokal hanya beroperasi setengah kapasitas menjadi isu yang semakin mendesak.

Ke depan, penting bagi pemerintah dan stakeholder terkait untuk menciptakan kebijakan yang mendukung industri baja dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk impor. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan industri baja nasional dapat kembali pulih dan berkontribusi lebih signifikan terhadap perekonomian Indonesia.