LintasWarganet.com – 27 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru‑baru ini mengumumkan bahwa serangan bersama Israel berhasil menghancurkan sebagian besar persediaan rudal Iran. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Senin, menyebut bahwa operasi militer tersebut menurunkan kemampuan balasan Iran secara signifikan.
Namun, laporan intelijen internal Amerika Serikat menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak sejalan dengan data aktual. Menurut sumber yang familiar dengan hasil evaluasi Pentagon, jumlah rudal balistik yang masih berada di wilayah Iran jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan Trump. Estimasi terbaru menyebutkan bahwa Iran masih memiliki antara 300 hingga 500 unit rudal taktis dan strategis, termasuk sistem balistik jarak pendek, menengah, dan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang masih dalam tahap pengembangan.
- Rudal balistik jarak pendek (SRBM): sekitar 200 unit
- Rudal balistik menengah (MRBM): sekitar 150 unit
- Rudal balistik antarbenua (ICBM) prototipe: sekitar 30 unit
Para analis militer menegaskan bahwa keberadaan persediaan rudal yang masih banyak tersebut memberi Iran kemampuan untuk melancarkan serangan balistik dalam skala regional. Mereka menilai bahwa operasi udara yang dilakukan pada bulan Juli 2023, yang menargetkan fasilitas produksi roket di kota Khuzestan, memang berhasil menurunkan sebagian stok, tetapi tidak mampu “menghabisi sebagian besar” sebagaimana yang diklaim.
Selain itu, pejabat militer menambahkan bahwa penilaian kemampuan Iran tidak hanya bergantung pada jumlah rudal, melainkan juga pada sistem peluncuran, jaringan komando‑kontrol, dan cadangan suku cadang. Hal ini berarti meski sebagian persediaan telah hancur, Iran tetap memiliki kapasitas untuk memproduksi dan mengganti rudal dalam jangka waktu singkat.
Reaksi internasional terhadap pernyataan Trump beragam. Sekutu NATO menyoroti pentingnya transparansi data intelijen untuk menghindari eskalasi. Sementara itu, pemerintah Iran membantah semua tuduhan serangan dan menegaskan bahwa program rudalnya terus berlanjut tanpa gangguan signifikan.
Secara keseluruhan, pernyataan Trump dianggap sebagai upaya politik untuk memperkuat citra keberhasilan kebijakan luar negeri menjelang pemilihan presiden berikutnya. Namun, data intelijen yang lebih konservatif menunjukkan bahwa ancaman rudal Iran masih tetap menjadi tantangan strategis bagi kawasan Timur Tengah.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet