LintasWarganet.com – 24 Juni 2026 | Timnas Norwegia mencuri sorotan dunia setelah mengukir kemenangan dramatis 3-2 atas Senegal di Piala Dunia 2026. Namun, kegembiraan mereka tidak hanya dirayakan lewat gol, melainkan dengan gerakan khas yang disebut “Viking Row“. Satu demi satu pemain, pelatih, bahkan suporter menirukan aksi mendayung di atas lapangan, dipimpin oleh kapten Martin Ødegaard yang bahkan menggoyang drum sebagai penanda ritme.
Gerakan serempak ini cepat menjadi simbol kebanggaan nasional, bahkan upaya melibatkan Raja Norwegia dalam perayaan menegaskan betapa luasnya penyebaran fenomena tersebut. Namun, di seberang perbatasan, reaksi beragam muncul, terutama dari negara-negara Skandinavia yang selama ini bersaing dalam bidang olahraga.
Reaksi Swedia: Dari Sigh Hingga Penolakan Terbuka
Gustaf Lagerbielke, bek sayap timnas Swedia, menjadi suara paling menonjol dalam menanggapi fenomena ini. Pada konferensi pers pasca pertandingan, ia mengungkapkan keengganannya untuk meniru “Viking Row” dengan tegas: “Saya tidak akan pernah melakukannya. Kami hanya menghela napas, terutama pada kru TV yang terus memperbesar aksi itu setiap kali. Rasanya terlalu mirip dengan “thunderclap” yang dipopulerkan oleh suporter Islandia sebelumnya. Tapi, apa pun yang membuat kalian senang, silakan saja.”
Kata-kata Lagerbielke mencerminkan rasa jengkel sekaligus kelelahan atas sorotan media yang terus mengulang aksi tersebut. Ia menambahkan bahwa gerakan tersebut terasa seperti “volcano” Islandia—sebuah analogi yang menekankan bahwa kebiasaan itu sudah terlalu berulang.
Rekan setimnya, Elliot Stroud, menambah pandangan serupa dengan mengatakan bahwa “Viking Row” mulai terasa berlebihan dan seolah‑olah dipakai setiap ada kesempatan. Meskipun mengakui bahwa gerakan itu berhasil mengangkat semangat Norwegia, ia menilai bahwa keunikan tersebut kini mulai kehilangan nilai novelty.
Denmark: Antara Iri dan Kekecewaan
Di sisi lain, Denmark yang gagal lolos ke turnamen melalui playoff melontarkan komentar lebih tajam. Jurnalis Johnny Wojciech Kokborg menilai fenomena tersebut sebagai bentuk “bullying dewasa” di antara negara Nordik. Menurutnya, keberhasilan Norwegia menimbulkan rasa iri yang mendalam, mengingat Denmark masih berjuang untuk mengembalikan kejayaan mereka di panggung internasional.
“Norwegia sedang menikmati pesta terbesar mereka, dan itu terasa menyakitkan bagi kami yang tidak bisa berpartisipasi,” tulis Kokborg. Ia menambahkan bahwa keberhasilan Norwegia tidak hanya mengancam posisi mereka di peringkat Skandinavia, tetapi juga menimbulkan rasa tidak nyaman karena tampaknya Norwegia menonjolkan kebanggaan budaya mereka lewat sebuah ritual yang mudah diakses.
Analisis Dampak Budaya dan Media
Gerakan “Viking Row” bukan sekadar tarian; ia menjadi simbol identitas nasional yang diproyeksikan melalui siaran televisi global. Media internasional, terutama Reuters dan The Guardian, menyoroti aksi tersebut sebagai bagian penting dari narasi Piala Dunia 2026. Namun, fokus berlebihan pada ritual ini menimbulkan kritik bahwa media menyepelekan aspek teknis pertandingan dan menonjolkan hiburan semata.
Selain itu, fenomena ini menggarisbawahi dinamika hubungan budaya di wilayah Nordik. Sementara Norwegia menggunakannya untuk menegaskan keunikan historis mereka, tetangga‑tetangganya menilai hal itu sebagai bentuk provokasi ringan yang menyinggung kebanggaan mereka sendiri.
Kesimpulan
Viking Row Norwegia menjadi contoh menarik bagaimana olahraga dapat menjadi panggung ekspresi budaya sekaligus menimbulkan gesekan antarnegara. Gustaf Lagerbielke, dengan penolakannya yang tegas, melambangkan kebosanan dan keinginan Swedia untuk tidak terjebak dalam ritus yang dianggap berulang. Di sisi lain, Denmark mengekspresikan rasa iri yang lebih dalam, menyoroti persaingan sportivitas di wilayah Skandinavia. Pada akhirnya, aksi sederhana mendayung di atas lapangan telah mengundang perdebatan luas, menegaskan bahwa di dunia sepak bola, setiap gerakan dapat menjadi politik budaya yang tak terduga.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet