Misi Romantis NASA: Roman Space Telescope Siap Luncur, Kisah Inspiratif Insinyur dari Suriname
Misi Romantis NASA: Roman Space Telescope Siap Luncur, Kisah Inspiratif Insinyur dari Suriname

Misi Romantis NASA: Roman Space Telescope Siap Luncur, Kisah Inspiratif Insinyur dari Suriname

LintasWarganet.com – 22 Juni 2026 | NASA menyiapkan peluncuran Nancy Grace Roman Space Telescope pada 30 Agustus 2026, menandai puncak dua dekade investasi lebih dari $4,3 miliar. Teleskop ruang angkasa ini dirancang untuk memperluas pemahaman manusia tentang alam semesta, dari percepatan ekspansi kosmos hingga pencarian ribuan eksoplanet yang jauh.

Spesifikasi dan Misi Utama

Roman Telescope memiliki bidang pandang yang setidaknya 100 kali lebih luas dibandingkan Hubble, memungkinkan pemindaian cepat atas lebih dari 100.000 eksoplanet dan miliaran galaksi dalam lima tahun operasi. Beberapa misi kunci meliputi:

  • Memetakan inti Galaksi Bima Sakti secara detail.
  • Membangun peta tiga‑dimensi alam semesta yang lebih akurat.
  • Mendeteksi planet raja‑buta (rogue planets) serta lubang hitam terisolasi.
  • Menyediakan data baru tentang materi gelap, energi gelap, dan laju ekspansi alam semesta.

Setelah selesai dibangun pada Desember 2025, teleskop kini menjalani serangkaian pemeriksaan akhir di Goddard Space Flight Center sebelum dipindahkan ke Kennedy Space Center untuk peluncuran.

Di Balik Layar: Peran Rohit Goeptar

Sementara teleskop menanti peluncuran, kisah manusia di baliknya juga menarik perhatian. Rohit Goeptar, seorang analis elektromagnetik dan radio‑frequency di NASA Launch Services Program, berasal dari Suriname. Lahir dalam keluarga miskin, ia pindah ke California pada usia enam tahun, kembali ke Amerika Selatan, dan kemudian kembali ke California setelah menjadi warga negara AS pada usia 13 tahun.

Setelah mengabdi enam tahun di Korps Marinir AS, Goeptar menghadapi tantangan pribadi yang berat, termasuk kehilangan dua ayah karena bunuh diri dan masa-masa hidup tanpa tempat tinggal. Namun, dukungan istri, pendidikan ganda di bidang teknik komputer dan listrik di University of Central Florida, serta kesempatan tak terduga dari Kennedy Space Center mengubah nasibnya.

Pada musim semi 2025, Goeptar menerima panggilan telepon yang mengundangnya untuk wawancara singkat di pinggir jalan. Dua minggu kemudian, ia berhasil melewati proses seleksi dan menjadi kontraktor pada program ELVIS (Expendable Launch Vehicle Integrated Support). Setelah lulus, ia bergabung penuh‑waktu pada awal 2026.

Di NASA, Goeptar bertanggung jawab atas analisis anggaran tautan frekuensi radio (RF) untuk Roman Telescope serta misi-misi lain seperti Sentinel‑6B, JPSS‑4, dan IMAP. Tugasnya mencakup memastikan tidak ada interferensi elektromagnetik antara sistem avionik dan memastikan kompatibilitas elektromagnetik antar peralatan. Analisis RF yang akurat sangat penting untuk menjaga komunikasi yang stabil antara teleskop dan stasiun bumi selama peluncuran dan operasi.

Persiapan Peluncuran dan Tantangan Teknis

Semua sistem pada Roman Telescope harus melewati uji kelayakan yang ketat. Di antaranya adalah verifikasi integritas optik, pengujian termal pada suhu ekstrem, serta simulasi kondisi mikrogravitasi. Pada tahap ini, tim RF yang dipimpin oleh Goeptar melakukan simulasi model tautan radio untuk roket peluncur serta payload ilmiah yang terpasang.

Keberhasilan misi sangat bergantung pada koordinasi antara berbagai tim, mulai dari insinyur struktural, ilmuwan data, hingga analis elektromagnetik. Kesalahan sekecil apa pun dapat mengakibatkan kehilangan data atau bahkan kegagalan misi.

Harapan Ilmiah dan Dampak Global

Roman Telescope diharapkan menghasilkan data yang membuka jalan bagi penemuan-penemuan baru tentang dark matter dan dark energy. Dengan kemampuan memetakan langit secara luas, teleskop ini juga akan membantu astronom di seluruh dunia, termasuk komunitas ilmiah Indonesia, dalam mengidentifikasi target observasi untuk teleskop berikutnya.

Kehadiran ilmuwan dan teknisi berbakat seperti Rohit Goeptar menunjukkan bahwa program luar angkasa kini semakin inklusif, memberi peluang bagi individu dengan latar belakang beragam untuk berkontribusi pada penjelajahan kosmos.

Dengan hitungan hari menuju peluncuran, atmosfer antariksa menanti kedatangan teleskop yang akan mengubah cara manusia melihat alam semesta. Kesuksesan Roman Telescope tidak hanya akan mengukir prestasi ilmiah, tetapi juga menjadi simbol inspirasi bagi generasi muda yang bermimpi menembus batas ruang dan waktu.