Gejolak batin yang tak bisa diungkapkan ibu dalam “Cerita Lila”
Gejolak batin yang tak bisa diungkapkan ibu dalam “Cerita Lila”

Gejolak batin yang tak bisa diungkapkan ibu dalam “Cerita Lila”

LintasWarganet.com – 19 Juni 2026 | Film “Cerita Lila” yang disutradarai oleh Bobby Prasetyo kembali menarik perhatian penonton setelah dirilis di festival film nasional. Berbeda dengan tren film horor yang mengangkat mitos daerah, karya ini lebih menonjolkan konflik emosional seorang ibu yang berjuang menyampaikan rasa takut dan harapan melalui karakter Lila.

Dalam wawancara terbarunya, Bobby menjelaskan bahwa inti cerita berpusat pada “gejolak batin” yang dirasakan sang ibu, namun tidak dapat diungkapkan secara verbal. Konflik internal ini muncul akibat perbedaan generasi, tradisi yang terpinggirkan, serta beban sosial yang menekan peran perempuan dalam keluarga.

  • Karakter ibu digambarkan dengan nuansa visual yang suram, menekankan rasa terkurung.
  • Lila, sebagai tokoh utama, berperan sebagai jembatan antara dunia tradisional dan modern.
  • Dialog minim, menggantikan bahasa verbal dengan simbolisme visual.

Penggunaan teknik sinematografi yang memanfaatkan pencahayaan alami serta suara ambient memperkuat atmosfer psikologis film. Bobby menambahkan bahwa ia sengaja mengurangi dialog untuk menekankan “bahasa hati” yang lebih kuat daripada kata-kata.

Film ini tidak hanya menyoroti dinamika keluarga, tetapi juga mengangkat isu-isu budaya yang sering terabaikan, seperti peran perempuan dalam melestarikan nilai-nilai adat di tengah arus modernisasi. Penonton diharapkan dapat merasakan kedalaman emosi melalui adegan-adegan yang penuh makna, meski tanpa penjelasan eksplisit.

Respon kritikus awal menunjukkan apresiasi terhadap keberanian sutradara dalam mengangkat tema psikologis yang jarang dibahas dalam perfilman Indonesia. Diharapkan “Cerita Lila” dapat membuka ruang dialog tentang pentingnya mendengarkan suara batin, khususnya suara para ibu yang sering teredam.