LintasWarganet.com – 16 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana melakukan revisi terhadap Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025‑2034. Revisi ini dimaksudkan untuk menyesuaikan kebijakan energi nasional dengan target ambisius pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) yang akan diintegrasikan ke dalam jaringan PLN.
Langkah tersebut telah disampaikan secara resmi oleh ESDM kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Penyampaian ini mencakup arahan strategis, alokasi kapasitas, serta jadwal implementasi yang diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek‑proyek surya di seluruh wilayah Indonesia.
- Target kapasitas: 100 GW PLTS tersebar di semua pulau, dengan prioritas pada daerah dengan potensi radiasi matahari tinggi.
- Jadwal revisi: Diharapkan rancangan revisi RUPTL selesai pada kuartal kedua 2024 dan akan mulai berlaku pada awal tahun 2025.
- Peran PLN: Menyusun rencana investasi, mengidentifikasi lokasi potensial, dan mengkoordinasikan kerja sama dengan pengembang swasta serta lembaga keuangan.
- Dukungan pendanaan: Pemerintah berjanji menyediakan skema pembiayaan yang menarik, termasuk insentif fiskal dan kemudahan perizinan.
- Manfaat ekonomi: Penciptaan ribuan lapangan kerja, penurunan biaya listrik, serta penguatan industri energi terbarukan nasional.
Revisi RUPTL ini juga akan meninjau kembali kebijakan tarif listrik, mekanisme penjualan listrik hasil PLTS, serta standar kualitas jaringan. Diharapkan kebijakan yang lebih fleksibel dapat menarik lebih banyak investasi domestik dan asing.
Beberapa tantangan yang diantisipasi meliputi kebutuhan infrastruktur transmisi yang memadai, integrasi energi terbarukan ke dalam sistem yang masih dominan oleh pembangkit konvensional, serta penyediaan tenaga kerja terampil. Untuk mengatasinya, ESDM berencana menggelar program pelatihan khusus serta memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan dan riset.
Dengan target 100 GW PLTS, pemerintah menargetkan kontribusi energi terbarukan mencapai sekitar 23 % dari total bauran energi listrik pada tahun 2034, selaras dengan komitmen Indonesia dalam Perjanjian Paris. Keberhasilan revisi RUPTL ini akan menjadi indikator penting dalam transisi energi bersih negara.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet