LintasWarganet.com – 16 Juni 2026 | Pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Menanggapi situasi tersebut, seorang dosen ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menilai bahwa upaya pemerintah dalam menyampaikan informasi belum optimal.
Beberapa poin penting yang diangkat antara lain:
- Transparansi data nilai tukar secara berkala dan mudah diakses.
- Penjelasan sederhana mengenai faktor‑faktor penyebab pelemahan rupiah, seperti tekanan pasar global dan kebijakan luar negeri.
- Penyertaan contoh konkret dampak pada harga kebutuhan sehari‑hari serta langkah mitigasi yang dapat diambil oleh konsumen.
- Penggunaan bahasa yang inklusif dan menghindari jargon teknis yang membingungkan.
- Pengakuan atas kekhawatiran masyarakat serta penawaran dukungan melalui kanal layanan publik.
Dosen UMY juga menyoroti pentingnya koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik, untuk menghasilkan pesan yang konsisten. Ia menambahkan bahwa empati dalam komunikasi dapat menurunkan tingkat volatilitas pasar karena investor dan publik akan menilai kebijakan lebih rasional.
Sebagai langkah ke depan, ia menyarankan pemerintah untuk membangun pusat informasi ekonomi yang menyediakan materi edukatif dalam format video, infografis, dan webinar interaktif. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan merasa lebih terlibat dalam proses kebijakan.
Penguatan komunikasi publik yang berempati diyakini tidak hanya meningkatkan kepercayaan masyarakat, tetapi juga memperkuat stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet