Ritual Doa dan Puasa 1 Suro 2026: Makna, Tata Cara, dan Tradisi Kontemporer
Ritual Doa dan Puasa 1 Suro 2026: Makna, Tata Cara, dan Tradisi Kontemporer

Ritual Doa dan Puasa 1 Suro 2026: Makna, Tata Cara, dan Tradisi Kontemporer

LintasWarganet.com – 16 Juni 2026 | Pada tanggal 16 Juni 2026, umat Islam di Indonesia menyambut Tahun Baru Hijriah sekaligus menandai pergantian kalender Jawa pada 1 Suro. Momen ini tidak hanya diperingati dengan perayaan budaya, melainkan juga dengan rangkaian ibadah khusus, antara lain puasa, doa malam, serta tradisi turun‑turunan yang kerap menjadi sorotan media. Berikut rangkaian lengkap tata cara, doa, dan kebiasaan yang melekat pada 1 Suro tahun ini.

Makna Tahun Baru Islam dan 1 Suro

1 Suro bertepatan dengan 1 Muharram, hari pertama dalam kalender Islam. Secara tradisional, umat Muslim menganggapnya sebagai hari yang penuh berkah, karena menandai awal siklus baru dalam agama serta kalender Jawa. Di Jawa, 1 Suro sekaligus menandai permulaan tahun baru Ba’, sehingga banyak masyarakat menggabungkan unsur keagamaan dan kebudayaan dalam perayaan.

Doa Puasa 1 Suro: Niat dan Bacaan

Sebelum melaksanakan puasa pada 1 Suro, umat Muslim diharuskan mengucapkan niat khusus. Niat tersebut biasanya dibaca pada malam hari atau sebelum fajar, dan dapat diucapkan dalam bahasa Arab maupun Latin. Contohnya:

  • Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الْمُحَرَّمِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
  • Latin: Nawaitu shauma‑sy‑syahri‑l‑muharrami sunnata‑lillaahi ta'aala.
  • Terjemahan: “Saya berniat puasa bulan Muharram sunnah karena Allah Ta’ala.”

Penetapan niat ini sejalan dengan anjuran ulama bahwa niat harus dilakukan sebelum waktu zawal (matahari terbenam) dan sebelum terdapat hal yang membatalkan puasa.

Tata Cara Puasa 1 Suro

Pelaksanaan puasa 1 Suro tidak berbeda secara substantif dengan puasa sunnah lainnya. Beberapa poin penting yang biasanya diikuti meliputi:

  1. Membaca niat sebagaimana disebutkan di atas.
  2. Mengonsumsi sahur yang dianjurkan, berdasarkan hadis Bukhari dan Muslim.
  3. Menjaga diri dari hal‑hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, atau perbuatan yang melanggar syariat.
  4. Berbuka tepat waktu setelah terbenam matahari, sambil mengucapkan doa berbuka.

Jika niat tidak sempat diucapkan pada malam sebelumnya, diperbolehkan untuk berniat pada siang hari asalkan sebelum terbitnya matahari.

Doa Malam 1 Suro: Doa Awal Tahun dalam Arab‑Latin

Pada malam sebelum 1 Suro, umat Muslim biasanya memperbanyak doa sebagai bentuk memohon keberkahan dan perlindungan sepanjang tahun yang baru. Salah satu doa lengkap yang sering dibaca adalah:

  • Arab: وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِي…
  • Latin: Washallallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wasallam. Allaahumma…
  • Terjemahan: “Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, serta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Abadi… Kami memohon perlindungan dari fitnah setan dan segala keburukan selama tahun ini.”

Doa ini biasanya dibaca tiga kali secara berurutan pada waktu Maghrib hingga menjelang tengah malam.

Doa dalam Bahasa Jawa

Di Jawa, tradisi doa pada malam 1 Suro juga diwarnai oleh bahasa daerah. Doa yang berbahasa Jawa ini mencerminkan muhasabah (introspeksi diri) serta harapan akan keselamatan keluarga. Contohnya:

  • “Dhuh Gusti Allah Ingkang Maha Asih, kawula nyuwun pangapunten dhumateng sedaya kalepatan lan dosa kawula.”
  • “Ya Tuhan, semoga saya dan keluarga selalu diberi keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan kesejahteraan.”

Doa‑doa ini diucapkan sambil mengingat kembali nilai-nilai moral serta harapan untuk tahun yang lebih baik.

Tradisi Minum Susu Putih pada Malam 1 Suro

Selain doa, banyak masyarakat Indonesia yang mempraktikkan tradisi minum susu putih pada malam 1 Suro. Tradisi ini dipopulerkan oleh ulama Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al‑Maliki, yang mengaitkan warna putih susu dengan kesucian, kebersihan hati, dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru. Meskipun tidak termasuk dalam sunnah Rasulullah SAW, ulama kontemporer seperti Ustadz Tengku M. Laksamana menegaskan bahwa amalan ini diperbolehkan sebagai bentuk tafa'ul (mengharap pertanda baik) selama tidak menyalahi prinsip syariat.

Para pelaku tradisi biasanya meminum segelas susu putih setelah shalat Maghrib, sambil membaca doa singkat memohon agar tahun yang akan datang dipenuhi dengan kebaikan dan kesehatan.

Berbagai praktik tersebut mencerminkan dinamika kebudayaan Islam di Indonesia, dimana elemen agama dan tradisi lokal saling berinteraksi menciptakan ritual yang bersifat spiritual sekaligus sosial.

Dengan menggabungkan niat puasa, doa malam, doa dalam bahasa Jawa, serta tradisi minum susu putih, umat Muslim di Indonesia menyiapkan diri secara menyeluruh untuk menyambut tahun baru Hijriah. Praktik‑praktik ini tidak hanya memperkuat ikatan religius, tetapi juga memperkaya warisan budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.