AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom Hingga Berkeping‑keping
AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom Hingga Berkeping‑keping

AS Habisi Bos Geng Tren de Aragua, Markasnya di Venezuela Dibom Hingga Berkeping‑keping

LintasWarganet.com – 14 Juni 2026 | Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke wilayah Venezuela pada hari Rabu, menargetkan markas utama geng kriminal Tren de Aragua yang berlokasi di daerah Barinas. Serangan tersebut, yang dilaporkan menggunakan pesawat pengebom tak berawak, menewaskan pemimpin gang, Hector Rusthenford Guerrero Flores, yang lebih dikenal dengan nama Nino Guerrero, serta menewaskan sejumlah anggota gang lainnya.

Tren de Aragua, yang didirikan pada awal 2010-an, terkenal dengan aksi kekerasan brutal, termasuk pembunuhan, penyanderaan, dan perdagangan narkoba. Kepemimpinan Nino Guerrero sejak 2018 memperkuat jaringan kriminal tersebut, menjadikannya salah satu organisasi kejahatan paling berbahaya di Venezuela.

Serangan tersebut dipicu oleh dugaan keterlibatan gang dalam penjualan narkoba ke pasar Amerika serta peranannya dalam menembus jaringan keuangan lintas batas. Pemerintah AS menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari strategi “counter‑narcotics” yang bertujuan menghentikan aliran narkoba dan menghukum pelaku kejahatan transnasional.

  • Lokasi serangan: kompleks markas Tren de Aragua di Barinas, Venezuela.
  • Korban tewas: Nino Guerrero (pemimpin), diperkirakan 3–5 anggota gang.
  • Kerusakan: bangunan markas hancur sebagian, beberapa kendaraan milik gang terbakar.
  • Reaksi Venezuela: Pemerintah menuduh pelanggaran kedaulatan dan mengumumkan penarikan diplomat AS.
  • Reaksi internasional: Beberapa negara mengutuk aksi militer di luar wilayahnya, sementara sekutu AS menyatakan dukungan terhadap upaya memerangi narkotika.

Pemerintah Venezuela melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara. Presiden Nicolás Maduro menuntut klarifikasi dan mengancam akan mengambil langkah balasan diplomatik.

Di sisi lain, pejabat AS menegaskan bahwa operasi tersebut dilakukan dengan persetujuan “pembelaan diri” karena adanya ancaman nyata dari jaringan narkoba yang beroperasi di wilayah tersebut. Mereka menambahkan bahwa serangan tidak menargetkan warga sipil dan meminimalkan dampak kemanusiaan.

Kasus ini menambah ketegangan antara dua negara yang hubungan diplomatiknya sudah tegang sejak beberapa tahun terakhir. Pengamat politik menilai bahwa serangan ini dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan, sekaligus meningkatkan tekanan terhadap kelompok kriminal yang beroperasi lintas batas.