Mahasiswa UNM Ciptakan Game Edukatif untuk Anak ADHD, Raih Pendanaan PKM Nasional 2026
Mahasiswa UNM Ciptakan Game Edukatif untuk Anak ADHD, Raih Pendanaan PKM Nasional 2026

Mahasiswa UNM Ciptakan Game Edukatif untuk Anak ADHD, Raih Pendanaan PKM Nasional 2026

LintasWarganet.com – 12 Juni 2026 | Tim mahasiswa Universitas Nusa Mandiri (UNM) berhasil mengembangkan sebuah permainan digital yang dirancang khusus untuk mendukung anak-anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Inisiatif ini mendapat pengakuan nasional dengan terserapnya pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2026.

Proyek game ini berawal dari observasi para mahasiswa terhadap tantangan belajar yang dihadapi anak ADHD di Indonesia. Mereka mengidentifikasi kebutuhan akan alat bantu interaktif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat meningkatkan fokus, memori kerja, dan kemampuan regulasi emosi.

Fitur utama permainan meliputi:

  • Level berbasis tugas real‑life yang menuntut pemain mengatur waktu dan prioritas.
  • Visual dan audio yang disesuaikan untuk mengurangi overstimulasi.
  • Feedback positif yang muncul secara real‑time untuk memperkuat perilaku yang diinginkan.
  • Mode kolaboratif yang memungkinkan anak bermain bersama teman atau terapis.

Pengembangan game dilakukan secara kolaboratif antara jurusan Teknologi Informasi, Psikologi, dan Pendidikan UNM. Setiap anggota tim bertanggung jawab atas aspek teknis, konten psikologis, serta validasi pedagogis.

Dengan dukungan dana PKM, tim berencana memperluas uji coba ke beberapa sekolah inklusi di Jakarta dan sekitarnya. Data hasil uji coba akan dianalisis menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif untuk menilai dampak terhadap peningkatan konsentrasi dan kemampuan sosial anak.

Rektor UNM, Dr. Ir. Budi Santosa, menyatakan, “Keberhasilan tim ini mencerminkan sinergi antara riset akademik dan kebutuhan masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan lain dalam mengintegrasikan teknologi untuk inklusi pendidikan.”

Pendanaan PKM yang diterima tidak hanya menutup biaya pengembangan perangkat lunak, tetapi juga mencakup pelatihan bagi guru dan terapis yang akan menggunakan game ini dalam proses belajar mengajar.

Ke depan, tim berambisi untuk menambahkan modul-modul tambahan yang menargetkan gangguan perkembangan lainnya, serta mempublikasikan hasil penelitian dalam jurnal internasional.