Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Rencana Energi Raksasa Rp70 Triliun di Istana: Apa yang Terungkap?
Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Rencana Energi Raksasa Rp70 Triliun di Istana: Apa yang Terungkap?

Prabowo dan Jusuf Kalla Bahas Rencana Energi Raksasa Rp70 Triliun di Istana: Apa yang Terungkap?

LintasWarganet.com – 12 Juni 2026 | Jakarta, 12 Juni 2026 – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan khusus dari Mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, pada Kamis (11/6) di Istana Merdeka. Kedatangan JK disertai putranya, Solihin Kalla, CEO Kalla Group, menandai pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung secara tertutup namun menarik sorotan publik mengingat krisis ekonomi dan kebutuhan energi nasional yang mendesak.

Setibanya sekitar pukul 15.00 WIB, JK dan Solihin disambut oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Teddy mengantar mereka ke ruang pertemuan tempat Prabowo menanti. Setelah salam hangat, keempat tokoh tersebut duduk dan memulai dialog yang diperkirakan berlangsung cukup lama, melibatkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebagai saksi tambahan.

Fokus Utama: Pengembangan Sektor Energi Nasional

Agenda utama pertemuan berpusat pada rencana strategis pengembangan energi nasional. JK menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada kisaran 5‑6 % hingga 8 % memerlukan pasokan energi yang melimpah dan berkelanjutan. “Tanpa energi, kita akan sulit meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar JK di depan Prabowo.

Dalam rangka memenuhi proyeksi tersebut, JK mengusulkan investasi sebesar Rp70 triliun untuk memperluas kapasitas pembangkit listrik. Ia menyebutkan bahwa Kalla Group telah memiliki pengalaman membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan kapasitas sekitar 1.500 MW dan siap menambah 2.000 MW lagi, termasuk melalui Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).

  • Investasi yang diproyeksikan: Rp60‑70 triliun.
  • Kapasitas yang diusulkan: tambahan 2.000 MW (PLTA & PLTG).
  • Fokus pada energi hijau (green energy) untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.

Prabowo menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan proyek energi hijau, menegaskan bahwa pembangunan energi merupakan bagian integral dari agenda nasional. Kedua pemimpin sepakat bahwa desain proyek dan lokasi strategis sudah siap, sehingga langkah selanjutnya adalah pembahasan teknis dan penyusunan skema investasi.

Aspek Bisnis dan Investasi

JK menekankan bahwa skala investasi sebesar itu tidak dapat dipisahkan dari aspek bisnis. “Pembangunan itu mesti ada aspek bisnisnya karena investasi, investasi yang besar,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Kalla Group siap menjadi mitra utama dalam penyediaan dana, teknologi, serta manajemen operasional proyek.

Menurut sumber internal, diskusi juga mencakup potensi kolaborasi dengan perusahaan domestik maupun asing, khususnya dalam bidang teknologi energi terbarukan seperti pembangkit tenaga surya dan angin. Meskipun belum ada pernyataan resmi tentang mitra spesifik, para peserta pertemuan tampak berkomitmen untuk membuka ruang negosiasi lebih luas.

Isu Internasional dan Kebijakan Ekonomi

Selain energi, JK menyampaikan beberapa poin terkait situasi geopolitik global yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Ia menyoroti pergeseran menuju deglobalisasi akibat konflik geopolitik dan tekanan ekonomi internasional, yang menuntut Indonesia memperkuat ketahanan energi domestik.

Prabowo menanggapi dengan menekankan pentingnya diversifikasi sumber energi dan peningkatan ketahanan energi nasional sebagai langkah strategis menghadapi ketidakpastian global. Kedua pihak sepakat bahwa kebijakan energi harus selaras dengan agenda ekonomi makro, termasuk peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri dalam negeri.

Kesimpulan

Pertemuan tertutup antara Presiden Prabowo Subianto dan Jusuf Kalla di Istana Merdeka menandai langkah signifikan dalam upaya pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur energi. Dengan rencana investasi mencapai Rp70 triliun, fokus pada energi hijau, serta kolaborasi potensial antara sektor publik dan swasta, agenda energi nasional diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan. Kedepannya, detail teknis dan kesepakatan investasi akan menjadi sorotan utama, sekaligus menjadi indikator kemampuan Indonesia dalam mengatasi tantangan energi dan ekonomi global.