LintasWarganet.com – 11 Juni 2026 | New York Knicks menorehkan salah satu comeback paling dramatis dalam sejarah NBA Finals pada Game 4 melawan San Antonio Spurs, mengubah defisit 29 poin menjadi kemenangan tipis 107-106. Dengan kemenangan ini, Knicks meraih keunggulan 3-1 dalam seri best-of-seven dan semakin dekat mengakhiri penantian gelar pertama sejak 1973.
Rangkaian kejadian di lapangan
Pada babak pertama, Spurs memimpin 76-49 pada akhir babak pertama dan memperlebar keunggulan menjadi 29 poin pada pertengahan babak ketiga (81-52). Namun, Knicks yang dipimpin oleh Jalen Brunson mulai bangkit setelah serangkaian turnover dan tembakan yang tidak efektif dari Spurs.
- Brunson mencetak 36 poin, termasuk sembilan poin penting di kuarter keempat.
- OG Anunoby menambah 33 poin dan menutup pertandingan dengan tip-in put-back pada 1,2 detik terakhir, mengamankan kemenangan.
- Karl-Anthony Towns berkontribusi dengan dua lemparan bebas yang memicu run 13-0, mengurangi defisit menjadi 16 poin.
- Victor Wembanyama mencatat 24 poin dan 13 rebound, namun hanya 9 tembakan masuk dari 25 percobaan.
Spurs yang semula menembak 57 poin dalam 29 kepemilikan pertama (rasio hampir 2 poin per kepemilikan) kehilangan ritme di kuarter keempat, hanya mencetak 30 poin sementara Knicks menambahkan 58 poin.
Reaksi pemain dan pelatih
Pelatih Knicks Mike Brown memuji ketangguhan mental timnya, menyatakan, “Kami menunjukkan resilien, tetap terhubung, dan mampu mengatasi tekanan besar.” Brunson, yang menjadi titik fokus ofensif, menambahkan, “Setiap tembakan itu penting, terutama di saat-saat kritis.” Anunoby menilai, “Kami tidak pernah menyerah, terus berjuang hingga detik terakhir.” Di sisi lain, pelatih Spurs Mitch Johnson mengakui penurunan performa timnya: “Kami tidak bermain sebagaimana mestinya di paruh kedua, tembakan tiga-point kami turun drastis.”
Reaksi penonton dan suasana di Madison Square Garden
Atmosfer di Madison Square Garden berubah menjadi euforia setelah gol penentu Anunoby. Penonton bergabung menyanyikan “Don’t Stop Believin’” dari Journey, sementara sorakan terus bergema. Namun, tidak semua tindakan positif; beberapa suporter Knicks melemparkan barang-barang kecil ke arah Victor Wembanyama dan pemain Spurs lainnya sebagai bentuk kegembiraan yang berlebihan, menimbulkan peringatan keamanan.
Insiden tersebut menjadi sorotan media, menekankan pentingnya kontrol kerumunan meski dalam kegembiraan kemenangan. Pihak arena melaporkan bahwa tidak ada cedera serius, namun petugas keamanan meningkatkan pengawasan pada pertandingan selanjutnya.
Makna historis dan statistik
Dengan mengatasi defisit 29 poin, Knicks mencetak comeback terbesar dalam sejarah NBA Finals. Sebelumnya, rekor terlama adalah 24 poin oleh Boston Celtics melawan Los Angeles Lakers pada 2008. Data Play-by-Play sejak 1997 menunjukkan tim yang tertinggal 29 poin atau lebih hanya menang 12 kali dari lebih 4.000 pertandingan, dengan persentase kemenangan 0,3 %.
Statistik pertandingan menegaskan perubahan momentum: Spurs mencetak 57 poin dalam 29 kepemilikan pertama, tetapi hanya 30 poin di kuarter keempat, sementara Knicks mencatat 58 poin di kuarter yang sama.
Kemenangan ini memberi Knicks peluang tiga kali untuk mengamankan gelar pada pertandingan selanjutnya. Game 5 dijadwalkan pada hari Sabtu di San Antonio, di mana Spurs harus meraih kemenangan untuk memperpanjang seri ke Game 6.
Dengan semangat juang yang tinggi dan kemampuan menyesuaikan taktik secara cepat, Knicks menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar tim yang “mengandalkan sejarah”, melainkan kekuatan kompetitif yang siap menantang dominasi tim-tim besar di era modern NBA.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet