Ketika cahaya itu masih bernama Koesno
Ketika cahaya itu masih bernama Koesno

Ketika cahaya itu masih bernama Koesno

LintasWarganet.com – 07 Juni 2026 | Di sebuah sudut tenang Kota Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana yang menjadi saksi bisu awal perjalanan seorang seniman cahaya, Koesno. Rumah itu, yang terletak di Jalan Gubeng, dulu hanya sebuah tempat tinggal biasa, namun kini menjadi titik penting dalam sejarah seni fotografi lokal.

Koesno, yang dikenal sebagai pionir fotografi hitam‑putih di Jawa Timur, memulai kariernya pada akhir 1970‑an. Dengan peralatan yang minim, ia berhasil menangkap momen‑momen kehidupan sehari‑hari warga Surabaya, mengabadikan cahaya dan bayangan yang kemudian dikenal dengan gaya “cahaya Koesno”.

Berbagai pameran di Surabaya, Jakarta, bahkan mancanegara menampilkan karya‑karya Koesno. Karya‑karyanya tidak hanya menonjolkan teknik komposisi, tetapi juga menggali narasi sosial‑kultural, memperlihatkan dinamika perubahan kota sejak era pasca‑independensi.

  • 1978 – Memperoleh penghargaan “Fotografer Muda” dari Persatuan Fotografer Indonesia.
  • 1985 – Mengadakan pameran solo pertama di Galeri Seni Surabaya.
  • 1992 – Karya “Cahaya Pagi di Gubeng” dipilih sebagai representasi fotografi Indonesia di Biennale Fotografi Asia.

Selain kegiatan seni, Koesno juga aktif mengajar generasi muda melalui workshop gratis di rumahnya. Ia menekankan pentingnya “melihat cahaya” tidak hanya sebagai sumber penerangan, tetapi sebagai metafora untuk menyoroti realitas sosial yang tersembunyi.

Pada tahun 2023, rumah sederhana itu diresmikan menjadi “Rumah Koesno”, sebuah ruang budaya yang menyimpan koleksi foto, perlengkapan lama, serta ruang belajar. Pemerintah Kota Surabaya bekerja sama dengan yayasan kebudayaan lokal menggelar program edukasi yang mengundang pelajar, fotografer amatir, dan peneliti.

Kehidupan Koesno kini menjadi inspirasi bagi banyak orang. Meskipun telah berusia lebih dari delapan puluh tahun, ia masih melangkah ke studio kecilnya, menyesuaikan lensa modern dengan semangat awalnya: mengabadikan cahaya yang menceritakan cerita manusia.