LintasWarganet.com – 06 Juni 2026 | Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12, mengingatkan bahwa dunia kini tengah beralih dari fase globalisasi ke arah deglobalisasi. Menurutnya, perubahan ini tidak hanya memengaruhi satu negara, melainkan menimbulkan tantangan lintas batas yang dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia.
Ia menyoroti bahwa kebijakan proteksionis yang semakin umum, penurunan aliran investasi asing, serta gangguan pada rantai pasok global menjadi indikator utama pergeseran tersebut. Dalam pandangannya, deglobalisasi menimbulkan “sakit” ekonomi yang meluas, seperti menurunnya pertumbuhan ekspor, peningkatan biaya produksi, dan ketidakstabilan pasar tenaga kerja.
Berikut beberapa dampak utama yang diidentifikasi oleh Kalla:
- Penurunan volume perdagangan internasional.
- Kenaikan tarif dan hambatan non-tarif.
- Berkurangnya investasi asing langsung (FDI) di negara‑negara berkembang.
- Gangguan pada rantai pasok yang mengakibatkan keterlambatan produksi.
- Fluktuasi nilai tukar yang memperburuk ketidakpastian bisnis.
Ia menekankan bahwa Indonesia harus menyiapkan strategi adaptif, termasuk memperkuat pasar domestik, meningkatkan daya saing industri lokal, dan memperluas kerja sama regional yang lebih fleksibel. Dengan begitu, negara dapat mengurangi ketergantungan pada pasar eksternal yang semakin tidak stabil.
Selain itu, Kalla mengingatkan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang responsif, serta investasi pada inovasi dan digitalisasi sebagai upaya memperkuat ekonomi nasional dalam menghadapi arus deglobalisasi.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet