Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 3% Pasca Serangan Amerika ke Iran
Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 3% Pasca Serangan Amerika ke Iran

Harga Minyak Dunia Naik Lebih dari 3% Pasca Serangan Amerika ke Iran

LintasWarganet.com – 28 Mei 2026 | Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan tajam sebesar lebih dari tiga persen pada hari Selasa setelah serangan militer terbaru yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap instalasi strategis di Iran. Serangan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur penyempitan laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia dan menjadi rute utama bagi sekitar tiga perempat produksi minyak dunia.

Kenaikan harga tercermin dalam indeks Brent yang melampaui US$84 per barel, naik dari level sebelumnya sekitar US$81 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik menjadi US$79 per barel, menandai peningkatan lebih dari tiga persen dalam hitungan jam.

Indeks Harga Sebelumnya Harga Saat Ini Perubahan
Brent US$81 US$84+ +3,7%
WTI US$76 US$79+ +3,9%

Para analis pasar menilai bahwa reaksi ini bersifat spekulatif, mengingat pasar belum menerima konfirmasi resmi mengenai pemblokiran pengiriman minyak di Selat Hormuz. Namun, risiko geopolitik yang tinggi dapat memicu volatilitas lebih lanjut, terutama jika ketegangan antara Washington dan Tehran terus meningkat.

Organisasi negara‑negara produsen minyak (OPEC) bersama sekutu non‑OPEC (OPEC+) belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai tindakan penyesuaian produksi. Sumber internal industri memperkirakan bahwa bila aliran minyak terganggu selama lebih dari seminggu, OPEC+ dapat mempertimbangkan pemotongan produksi tambahan untuk menstabilkan pasar.

  • Potensi gangguan di Selat Hormuz dapat menurunkan pasokan global hingga 5 juta barel per hari.
  • Negara‑negara importir energi, terutama di Asia, mungkin menghadapi kenaikan biaya energi dan inflasi.
  • Investor cenderung beralih ke aset safe‑haven seperti emas dan dolar AS.

Secara makroekonomi, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan inflasi di banyak negara, terutama yang masih bergantung pada impor energi. Bank sentral mungkin perlu menyesuaikan kebijakan moneter bila tekanan harga energi terus berlanjut.

Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta laporan resmi mengenai kondisi operasional di Selat Hormuz. Stabilitas pasokan minyak menjadi faktor kunci yang dapat menentukan arah pergerakan harga dalam beberapa minggu mendatang.