Nilai TKA 2026: Kalimantan Selatan Melejit di Atas Nasional, Matematika Nasional Masih Menggeliat
Nilai TKA 2026: Kalimantan Selatan Melejit di Atas Nasional, Matematika Nasional Masih Menggeliat

Nilai TKA 2026: Kalimantan Selatan Melejit di Atas Nasional, Matematika Nasional Masih Menggeliat

LintasWarganet.com – 28 Mei 2026 | Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) baru saja merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD/MI dan SMP/MTs untuk tahun 2026. Data tersebut memberikan gambaran menyeluruh tentang capaian literasi dan numerasi siswa di seluruh Indonesia. Secara umum, nilai rata‑rata Bahasa Indonesia berada di atas 60, sementara nilai Matematika masih berkeliling 40. Namun, tidak semua provinsi menampilkan pola yang sama. Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi sorotan karena berhasil mencetak nilai di atas rata‑rata nasional pada kedua mata pelajaran, terutama pada Bahasa Indonesia.

Data Nasional

Jenjang Bahasa Indonesia Matematika
SD/MI 60,14 ≈40,00
SMP/MTs 60,83 ≈40,00

Data nasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi (Bahasa Indonesia) berada di atas 60 poin pada kedua jenjang, menandakan tingkat pemahaman teks yang relatif baik. Di sisi lain, nilai Matematika berada di kisaran 40 poin, menandakan adanya kesenjangan signifikan antara kemampuan literasi dan numerasi. Simpangan baku pada Bahasa Indonesia mencapai 17,66 poin, mengindikasikan variasi hasil yang luas di antara daerah.

Kinerja Kalimantan Selatan

Jenjang Bahasa Indonesia Matematika
SD 63,94 43,89
SMP 63,03 40,77

Menurut laporan yang dirilis oleh Banjarmasin Post pada 28 Mei 2026, nilai Bahasa Indonesia di Kalsel mencapai 63,94 pada jenjang SD dan 63,03 pada jenjang SMP, keduanya berada di atas rata‑rata nasional. Nilai Matematika Kalsel juga melampaui standar nasional, yaitu 43,89 untuk SD dan 40,77 untuk SMP. Kepala SMPN 4 Tanjung, Imam Nashokha, menegaskan bahwa hasil ini dijadikan bahan refleksi bersama, bukan untuk mencari kesalahan.

Provinsi dengan Nilai Tertinggi dan Terendah

  • Provinsi dengan nilai Bahasa Indonesia tertinggi: DI Yogyakarta (75,14 SD, 73,74 SMP).
  • Provinsi dengan nilai Bahasa Indonesia terendah: Maluku Utara (46,41 SD).
  • Provinsi dengan nilai Matematika terendah: Papua Pegunungan (47,11 SMP).

Data per provinsi diurutkan berdasarkan kode provinsi, bukan ranking, namun memberikan gambaran jelas tentang disparitas pendidikan di wilayah Indonesia.

Analisis dan Tantangan

Berbagai faktor berkontribusi pada perbedaan nilai antar provinsi. Di satu sisi, provinsi seperti DI Yogyakarta menikmati infrastruktur pendidikan yang kuat, dukungan pemerintah daerah, serta program peningkatan kualitas guru yang konsisten. Di sisi lain, wilayah seperti Maluku Utara dan Papua Pegunungan menghadapi kendala geografis, keterbatasan sarana, dan tenaga pengajar yang belum optimal.

Kalsel berhasil menembus ambang batas nasional karena beberapa kebijakan strategis, antara lain:

  1. Penerapan seleksi penerimaan murid baru (SPMB) secara daring, yang memungkinkan distribusi materi persiapan TKA secara merata.
  2. Pelatihan intensif bagi guru Bahasa Indonesia dan Matematika menjelang pelaksanaan TKA.
  3. Peningkatan akses ke sumber belajar digital melalui kerja sama dengan platform edukasi nasional.

Meskipun demikian, nilai Matematika Kalsel yang hanya berada di atas 40 poin masih menunjukkan ruang perbaikan yang signifikan. Secara nasional, angka 40 poin menandakan tantangan besar dalam menguasai konsep numerik dasar. Pemerintah pusat telah menekankan pentingnya integrasi pembelajaran berbasis proyek dan penggunaan teknologi adaptif untuk memperkuat kompetensi numerik.

Secara keseluruhan, data TKA 2026 menegaskan dua tren utama: pertama, literasi Bahasa Indonesia telah mencapai tingkat yang cukup baik di hampir semua provinsi; kedua, numerasi masih menjadi titik lemah yang memerlukan intervensi kebijakan lebih intensif. Kalsel menjadi contoh positif karena berhasil melampaui rata‑rata nasional pada kedua mata pelajaran, namun masih harus mengatasi kesenjangan antara nilai Bahasa Indonesia dan Matematika.

Upaya perbaikan harus berfokus pada peningkatan kompetensi guru Matematika, penyediaan materi pembelajaran yang relevan, serta peningkatan motivasi siswa melalui kompetisi dan proyek berbasis masalah. Jika kebijakan ini dijalankan secara konsisten, diharapkan nilai Matematika nasional dapat meningkat secara signifikan dalam siklus evaluasi berikutnya.