LintasWarganet.com – 27 Mei 2026 | Persis Solo kembali menjadi sorotan publik setelah laga akhir musim BRI Super League 2025/2026 melawan Persita Tangerang berakhir dengan skor 3-1 untuk keunggulan Laskar Sambernyawa. Kemenangan ini, yang terjadi di Stadion Manahan, Solo, seharusnya menjadi tiket selamat dari degradasi. Namun, fakta menunjukkan bahwa Persis tetap terpuruk ke kasta kedua meski berhasil mengalahkan lawan yang lebih rendah dalam klasemen.
Kemenangan Dramatis di Manahan
Pertandingan antara Persis Solo dan Persita Tangerang berlangsung pada Sabtu, 3 Agustus 2024, di mana gelombang dukungan suporter Laskar Sambernyawa terdengar menggema sepanjang 90 menit. Gol-gol pertama dibuka oleh pemain tengah Persis pada menit ke-15, diikuti oleh serangan balik cepat yang menghasilkan gol kedua pada menit ke-32. Persita sempat menekan kembali dan berhasil memotong selisih menjadi 2-1 pada menit ke-58, namun Laskar Sambernyawa kembali menambah satu gol penentu pada menit ke-77, memastikan kemenangan 3-1.
Meski hasil akhir tampak memuaskan, tekanan kompetisi tidak berkurang. Persis Solo, yang terdegradasi pada akhir musim sebelumnya, masih harus berjuang keras untuk kembali ke kasta tertinggi. Pelatih kepala tim, Milomir Seslija, menegaskan bahwa kemenangan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan buah dari kerja keras dan dedikasi seluruh skuad.
Optimisme Milomir Seslija Menatap Musim Depan
Seslija, yang berusia 61 tahun dan berasal dari Bosnia-Herzegovina, tidak menyembunyikan rasa terima kasihnya kepada para pemain. “Saya hanya bisa bilang terima kasih atas kerja keras seluruh pemain karena mereka memberikan segalanya pada laga terakhir,” ujarnya dalam konferensi pers setelah pertandingan. Ia menambahkan bahwa Persis Solo seharusnya tidak terpaksa turun ke divisi kedua karena kota Solo memiliki fasilitas memadai dan dukungan suporter yang luar biasa.
Menurut Seslija, pengalaman pahit degradasi dapat menjadi pelajaran berharga. “Dan siapa pun nanti yang ada di Persis Solo, saya bilang Persis akan kembali secepatnya. Persis dengan pelajaran ini bisa tumbuh lebih baik dan berkembang lebih kuat,” tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa regulasi Pegadaian Championship 2025/2026 mewajibkan klub kasta kedua menggunakan pelatih lokal dengan lisensi minimal A AFC, sehingga masa depan kepelatihan di Persis masih belum pasti.
Persita Tangerang: Kegagalan Menghalangi Ambisi
Di sisi lain, Persita Tangerang harus menerima kekalahan yang menambah beban psikologis pada skuad. Meskipun mereka berhasil menembus zona aman klasemen, kegagalan mengatasi Laskar Sambernyawa menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi tim. Pemain muda seperti Hokky Caraka, yang menjadi satu-satunya pemain Persita yang dipanggil ke Timnas Indonesia oleh pelatih John Herdman, tetap menjadi harapan untuk memperbaiki performa di musim berikutnya.
Konstelasi Liga: Persib, Persija, dan Persebaya dalam Sorotan Nasional
Di tengah dinamika Persis dan Persita, kompetisi Super League 2025/2026 terus menampilkan cerita menarik lainnya. Persija Jakarta menjadi tim dengan jumlah pemain terbanyak dipanggil ke Timnas Indonesia, total delapan orang, menandakan kedalaman talentanya. Sementara itu, Persebaya Surabaya menjadi satu-satunya klub 10 besar yang tidak memiliki pemain terpilih dalam skuad Timnas, meski finis di posisi keempat klasemen akhir.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, menanggapi situasi tersebut dengan sikap profesional. “Sebagai pelatih, memanggil pemain harus sesuai kebutuhan tim dan kualitas pemain tersebut,” ujarnya. Ia menegaskan komitmen klub untuk mengembangkan kualitas pemain agar dapat bersaing di panggung internasional.
Dewa United dan Perspektif Masa Depan Klub
Klub lain seperti Dewa United juga turut menambah warna persaingan. Jan Olde Riekerink, mantan pelatih Dewa United, mengakui bahwa meskipun klub finis di posisi ketujuh dengan 53 poin, target awal musim belum tercapai. Riekerink menilai fasilitas dan manajemen klub telah mengalami peningkatan signifikan, menyiapkan Dewa United menjadi calon kuat di masa depan.
Semua dinamika ini menunjukkan bahwa persaingan di level tertinggi sepakbola Indonesia tidak hanya bergantung pada satu pertandingan, melainkan pada konsistensi, kebijakan klub, serta dukungan infrastruktur dan suporter.
Dengan menatap ke depan, Persis Solo bertekad mengoptimalkan pelajaran dari musim yang berakhir. Jika klub dapat mengamankan pelatih lokal yang kompeten serta memanfaatkan fasilitas kota Solo, peluang kembali ke BRI Super League menjadi semakin realistis. Sementara Persita Tangerang harus memperbaiki taktik dan menambah kedalaman skuad untuk menghindari penurunan performa di musim berikutnya.
Seiring berjalannya waktu, persaingan antar klub akan terus memacu peningkatan standar kompetisi, memberikan hiburan berkualitas bagi penggemar sepakbola Indonesia.
LintasWarganet.com Info Update Terpercaya untuk Warganet